“MENCARI INDONESIA 4: DARI RADEN SALEH SAMPAI AYU UTAMI”

Sosok
Bagikan berita ini

“MENCARI INDONESIA 4: DARI RADEN SALEH SAMPAI AYU UTAMI”

KEPENGARANGAN
Nama Dr. Riwanto Tirtosudarmo, tentu tidak asing lagi bagi kalangan peneliti khususnya di LIPI (kini, BRIN). Lelaki kelahiran Tegal (Jawa Tengah) pada 1952 itu telah malang melintang dalam bidang penelitian sejak 1980 hingga pensiun pada 2017 lalu. Sebut saja, pernah menjadi peneliti di Leknas LIPI (1980-1986), lalu di PPT LIPI (1986-1998) dan hingga pensiun menjadi peneliti di PMB LIPI (1998-2017).

Berbagai pengalaman luar negeri juga pernah dilakoninya, di antaranya sebagai Senior Visiting Researcher Fullbright di Brown University, USA (1996-1997); Fellow-in-Residence Netherlands Institute for Advanced Studies (NIAS), Belanda (2000-2001), Visiting Professor Institute for  Language and Culture of Asia and Africa (ILCAA), Tokyo University for Foreign Studies (TUFS), Jepang (2003-2004); Visiting Fellow Refugee Studies Centre (RSC), Oxford University, Inggris (2005); Visiting Fellow, KITLV, Belanda (2007) dan banyak lainnya.

Sesuai dengan bidang keahliannya, alumnus dari Research School of Social Sciences, Australian National University, Canberra, Australia (1990) itu telah melahirkan buku-buku yang berkualitas dalam kajian Demografi Sosial. Di antaranya: Dari Riau Sampai Timor-Timur: Demografi Politik Pembangunan di Indonesia (Sinar Harapan: 1996), From Colonization to Nation-State: The Political Demography of Indonesia (Revised Edition, Springer, 2022) dan buku yang tengah diresensi ini, Mencari Indonesia 4: Dari Raden Saleh Sampai Ayu Utami (BRIN Jakarta: 2022). Buku ini merupakan buku keempat yang diterbitkan secara berseri, setelah buku Mencari Indonesia 1 sampai 3.

SINOPSIS BUKU
“Sebelum terlambat, mungkin sekarang Indonesia harus kembali mengingat Gus Dur dan mungkin juga harus mendengarkan apa pendapat Manuel Kaisiepo tentang bagaimana harus menjalin perdamaian dengan Papua. Bagi orang Papua, mungkin karena pengalaman sejarah yang getir, ada yang lebih berharga dari sekadar kesejahteraan material, yaitu martabat dan harga diri; dan itu yang selama ini diabaikan. Setelah Aceh, Papua adalah ujian terakhir; mampukah Indonesia berdiri sebagai sebuah republik yang menghargai warga negaranya sendiri.” (halaman 168)

RESENSI BUKU
Buku ini, MENCARI INDONESIA 4: Dari Raden Saleh Sampai Ayu Utami, selain bernas dan berbobot juga komprehensif. Di dalamnya, Dr. Riwanto secara lancar dan tidak patah-patah mengulas sebanyak 167 sosok intelektual, “tidak hanya tokoh intelektual Indonesia, namun juga tokoh intelektual dari luar Indonesia yang mempelajari hal-hal mengenai keindonesiaan, mulai dari agama hingga politik”. (Pengantar Penerbit, hlm. Xi)

Sosok tokoh intelektual tersebut disusun berurutan secara alfabetis. Mulai dari abjad A yang memiliki 13 sosok tokoh, hingga abjad W yang hanya memiliki satu sosok tokoh; yaitu, Widjojo Nitisastro. Sosok Ayu Utami sendiri berada pada urutan ke-13 dalam abjad A tersebut. Sedangkan Raden Saleh merupakan sosok satu-satunya dalam abjad R. Entah apa alasan penulisnya menjadikan kedua sosok tersebut sebagai sub judul bukunya? Apakah karena keduanya merupakan seorang seniman?

Semua sosok yang dituliskan dengan gaya bahasa lugas namun bernas tersebut sangat menarik. Sosok-sosok itu  berasal “dari masa sebelum kemerdekaan sampai pasca-reformasi, seperti saat ini” (Pengantar Penerbit, hlm. vi). Penerbitnya –BRIN—berharap agar buku ini dapat memberikan sumbangan untuk menumbuhkan rasa hormat dan harga diri akan keberagaman khazanah keintelektualan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Salah satu yang menarik, dari keseluruhan isi bukunya yang sangat menarik ini, adalah paparannya mengenai Manuel Kaisiepo. Sosok asal Papua itu, sebagaimana ditulis pengarang buku, terbilang gesit dalam memperoleh referensi saat itu (1980-an). Ini menunjukkan, bahwa Manuel Kaisiepo adalah seorang intelektual yang terus bergerak. Pendapatnya mengenai Papua, yang saat ini masih tetap bergejolak, sangat relevan.

“Bagi orang Papua, mungkin karena pengalaman sejarah yang getir, ada yang lebih berharga dari sekadar kesejahteraan material, yaitu martabat dan harga diri; dan itu yang selama ini diabaikan. Setelah Aceh, Papua adalah ujian terakhir; mampukah Indonesia berdiri sebagai sebuah republik yang menghargai warga negaranya sendiri.” Demikian pendapat Manuel Kaisiepo sebagaimana dikutip oleh Dr. Riwanto dalam bukunya tersebut.

KELEBIHAN
Setelah membacanya secara utuh, Buku ini memang terbukti memiliki kelebihan khusus. Banyak informasi baru dari sosok tokoh intelektual yang dituliskan di dalamnya, yang selama ini mungkin belum terungkap ke permukaan. Informasi baru itu laiknya kepingan puzzle, yang dapat dirangkai dengan tepat oleh pengarangnya menjadi satu kesatuan yang utuh: Indonesia!

KEKURANGAN
Tiada gading yang tak retak<span;>, Buku ini tetap masih memiliki kekurangan. Dan, kekurangan itu adalah, harus lebih banyak lagi mencantumkan sosok tokoh intelektual Papua. Secara proporsional, misalnya, bila ada 167 sosok, maka sebanyak lima atau enam sosok asal Papua yang dapat dituliskan di dalamnya.

Manokwari (Papua Barat), 4 Juli 2022

Peresensi,
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I)

Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Pembina Nasional
Forum Mahasiswa Studi Agama-agama se-Indonesia (FORMASAA-I)
Manokwari, Papua Barat

Manokwari, Papua Barat

Wassalam,​Yang amat lemah​
RAKEEMAN R.A.M. JUMAAN​

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *