Workshop Sinergi Pencegahan dan Penindakan Tindak Pidana Kehutanan di Raja Ampat

sorong raya
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Waisai,Honaipapua.com, -Pandemi Covid-19 disinyalir turut menyumbang peningkatan aktivitas ilegal diwilayah terrestrial di kabupaten Raja Ampat. Hanya dalam kurun waktu satu tahun jeda pengurangan aktivitas pariwisatanya, sejumlah pelanggaran SDA kehutanan mulai kembali marak. Hal ini menjadi topik utama dalam kegiatan workshop yang dilaksanakan di aula Dolphin Cottage, Selasa (23/3)

Workshop tersebut melibatkan BBKSDA Papua Barat, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Raja Ampat, Polres Raja Ampat, Kodim 1805/Raja Ampat, salah satu Mitra Pembangunan, yakni Fauna & Flora International’s Indonesia Programme Raja Ampat dan Kelompok Tani Hutan Warkesi sebagai narasumber dan stakeholder Pemerhati Lingkungan Raja Ampat. Tak lupa masyarakat kampung Sapokren, Warimak, Waifoi, Go, Kalitoko, Warsambin, dan beberapa kampung di Waigeo Utara sebagai peserta kegiatan. Serta secara umum, mengundang KPHL Unit I Raja Ampat, CDK Wilayah IX Raja Ampat, Babinsa, Kodim 1805/Raja Ampat, Pos TNI Angkatan Laut Raja Ampat, Bhabinkamtibmas-POLRES Raja Ampat, BKKPN Kupang Wilker Raja Ampat, PSDKP Tual Wilayah Raja Ampat, Dinas Kelautan dan Perikanan serta OPD terkait lainnya dilingkup Pemda kabupaten Raja Ampat.

Workshop ini dibagi dalam dua kegiatan utama, yaitu seminar dan diskusi selama dua hari, lalu dilanjutkan dengan kegiatan lapangan di lokasi objek wisata Webat Camping Ground berbentuk bootcamp atau kemping di alam. Hal ini dimaksudkan agar menambah semangat konservasi keanekaragaman hayati peserta.

Dalam acara pembukaan, Plt. Kepala BBKSDA Papua Barat, Budi Mulyanto S.Pd,. M.S menyampaikan
fokus utama kami di BBKSDA Papua Barat adalah perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari dan berkelanjutan demi Indonesia yang maju dan adil. Menurutnya ini dikarenakan pembangunan berkelanjutan merupakan syarat utama pengelolaan pembangunan yang kontinuitas dan terus menerus. Dimana pemanfaatan SDA bukan hanya pada generasi sekarang, tapi harus juga disiapkan untuk generasi yang akan datang.

“Konsepnya adalah kita meminjam kepada generasi berikutnya, sehingga harus dikembalikan kepada mereka melalui pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan,”

Lebih lanjut, Budi Mulyanto juga menjelaskan bahwa Workshop yang direncanakan akan dilaksanakan selama 4 hari ini adalah inisiasi bersama mitra pembangunan, yaitu FFI’s IP Raja Ampat untuk menjalin kerjasama seluruh pihak yang berkaitan dengan kehutanan dan kawasan konservasi. Dijelaskan Budi, ada 9 Kawasan Konservasi BBKSDA Papua Barat, dan jumlah keanekaragaman hayati yang perlu dijaga bukannya berkurang, tapi malah bertambah dengan jumlah stafnya yang tetap hanya berjumlah 11 orang untuk kabupaten Raja Ampat.

“Workshop ini adalah inisiasi bersama karena kami sadar, kewenangan kami terbatas, hanya sebatas pengamanan dan penertiban. Apalagi tindak pidana kehutanan adalah hal yang kompleks, sehingga keterlibatan semua pihak sangat diperlukan. Harapan kami, melalui Workshop ini, semangat semua elemen masyarakat dalam menjaga hutan akan terus tumbuh hingga generasi yang akan datang,” harap Budi Mulyanto. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *