LBH Gerimis : Mahasiswi Korban Pelecehan Seksual Di Keluarkan, Pelaku Pelecehan Seksual Dilindungi Kampus Viktori

sorong raya
Bagikan berita ini

SORONG,Honaipapua.com, -Direktur Lembaga Bantuan Hukum Gerakan Papua Optimis (LBH-GERIMIS) Papua Barat  Yosep Titirlolobi, S.H dalam rilisnya kepada media ini mengecam tindakan yang dilakukan Perguruan Tinggi Universitas Viktori Sorong diduga telah melindungi oknum Dekan Fakultas Ilmu Komputer berinisial MM yang diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu oknum mahasiswinya yang berinisial SM.

Hal ini sangat disayangkan oleh LBH-GERIMIS yang mana telah diberikan Kuasa untuk mendampingi Mahasiswi tersebut yang telah dikeluarkan oleh pihak Kampus Viktori secara diam-diam agar kasus pelecehan seksual dengan pengancaman yang dilakukan oleh Oknum Dekan Fakultas Ilmu Komputer tersebut tidak di ketahui oleh publik.

“Pintar sekali juga Rektor Universitas Viktori yang diduga ingin mencoba melindungi perbuatan Dekan tersebut, ini sangat membahayakan sekali, bukanya melindungi tetapi membelah dekan MM, “terang Yosep.

Menurut Yosep, seharusnya pihak Kampus Universitas Viktori harusnya melindungi klien kami yang sebagai mahasiswa bukan sebaliknya melindungi dosen yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswanya dengan ancaman dan ini sudah berulang-ulang kali dilakukan oleh dekan MM.

Apalagi menurut Yosep, Permendikbudristek Nomor : 30/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dilingkungan Perguruan Tinggi pada akhir Oktober tahun 2021.

Dijelaskan Yosep, seharusnya pihak Universitas Viktori harus patuh dan mentaati aturan yang telah dikeluarkan oleh Kemendikbudristek dan tidak ada toleransi bagi pihak Perguruan Tinggi dalam melindungi pelaku kekerasan seksual di dalam lingkungan perguruan tinggi, ungkap Yosep.

Untuk itu, pihak Kampus harus patuh dan menjalankan perintah yang sudah tertuang dalam Pasal 10 tentang penanganan Kekerasan Seksual, dimana setiap Kampus wajib melakukan empat hal dalam menanggapi kasus Pelecehan Seksual.

Dalam empat hal tersebut secara umum adalah pendampingan, perlindungan, pengenaan sangsi administratif, serta pemulihan korban, tetapi yang terjadi pihak Kampus Viktori tidak menjalankan perintah Permendikbudristek tetapi Korban Pelecehan Seksual dikeluarkan langsung dari kampus Viktori setelah Kasus pelecehan seksual ini viral dimasyarakat Papua Barat.

“Ini bahaya kalau dosen modelnya seperti begini, apalagi pake mengancam dengan kekerasan apa bila tidak mengikuti kemauan dosen maka mahasiswa tersebut tidak akan diberikan nilai yang bagus.”beber Yosep.

Lanjut Yosep, mengenai sangsi administratif, telah dijelaskan secara detail dalam Pasal 13 Permendikbudristek 30/202, dimana sangsi tersebut dikenakan kepada pelaku yang terbukti melakukan kekerasan seksual dan seharusnya Universitas Viktori harus membentuk satuan tugas sebagai bagian dari pencegahan kekerasan seksual.

Dimana sangsi administratif harus diambil sesuai dengan aturan yang berlaku sesuai dengan Permendikbudristek yang mana sangsi berat, ringan dan sedang, sebagaimana Pasal 14 Ayat 2 tertulis sangsi ringan berupa teguran tertulis atau pernyataan permohonan maaf tertulis dan di publikasikan di internal kampus atau media massa.

Sementara dalam Pasal 14 Ayat 3, disebutkan bahwa sangsi sedang adalah dosen tersebut bisa diberhentikan sementara dari jabatan tanpa mendapat hak jabatan atau pengurangan hak sebagai dosen dan pengurangan hak yang lainnya.

Sedangkan dalam sangsi berat dijelaskan dalam Pasal 14 Ayat 4, pelakunya akan mendapatkan pencopotan tetap dari jabatan pendidik tenaga kependidikan atau warga kampus, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan dari kampus yang bersangkutan.

Hal itu telah dijelaskan secara detai apabila Perguruan Tinggi Viktori yang tidak melaksanakan pencegahan dan penanggulangan pelecehan seksual juga bisa diberikan sangsi administratif bila mana korban melaporkan kepada Kemendikbudristek maka sangsi bisa didapatkan oleh pihak kampus Viktori berupa Penghentian bantuan keuangan atau sarana dan prasarana ditambah lagi perguruan tinggi Viktori bisa mendapatkan penurunan tingkat akreditasi kampus. ujar Yosep.

Untuk itu, kepada pihak rektorat universitas Viktori untuk tidak semena-mena dalam mengeluarkan mahasiswa korban pelecehan seksual dari kampus apalagi kami LBH Gerimis sendiri telah mendengar kalau Presiden Bem Viktori juga dikeluarkan juga karena melakukan demo menutut keadilan kepada pihak kampus.

LBH Gerimis sendiri siap mendampingi mahasiswa tersebut, untuk membuat laporan polisi atas dugaan pelecehan seksual yang dilakukan dengan cara kekerasan dan pengancaman dan setelah itu kami akan mengambil langkah hukum selanjutnya demi membela klien kami untuk mendapatkan hak-haknya sebagai mahasiswa, “tegas Yosep lagi. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *