Dugaan Upaya Pemerkosaan Oknum Polisi Tetap Diproses

sorong raya
Bagikan berita ini
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

Sorong, Honaipapua.com,- Kapolres Sorong Kota, AKBP. Mario Cristy Pancasakti Siregar S.IK, membenarkan pihak telah menerima laporan dari seorang wanita pada Jumat (1/6) pekan lalu, terkait dugaan upaya pemerkosaan dengan terlapor oknum anggotanya berinisial MB.

Kapolres mengungkapkan bahwa, terduga pelaku MB memang masuk ke rumahnya sendiri yang saat itu tidak dihuni anak dan istrinya yang sedang berada di Timika Papua.

“Ketika MB masuk ke dalam rumahnya dan mendapati korban sedang tidur di kamar MB dan istrinya, di situlah kejadian itu terjadi,”terangnya yang ditemui pewarta di Mapolres Sorong Kota, Rabu (6/6).

Sadar dirinya dipeluk MB yang ternyata adalah omnya, korban akhirnya meronta dan akhirnya berhasil menyelamatkan diri. Kapolres menegaskan bahwa pihaknya tetap memproses kasus tersebut.

“Saat ini kasus tersebut sedang dalam tahap proses pemeriksaan. Statusnya juga akan kita naikkan dari lidik menjadi sidik,”tukas AKBP.Mario sembari mengatakan, kasus yang dilakukan MB akan ditindak lanjuti proses disiplin karena telah mencoreng wajah institusi Kepolisian.

Disinggung soal dugaan pengancaman yang juga dilakukan MB kepada korban, Kapolres mengatakan, bahwa hal tersebut masih akan didalami pihaknya mengingat minimnya saksi.

“Jadi kita tidak mau tergesa-gesa dalam menerapkan ancaman pasalnya. Oleh karena itu rencananya kita akan gelar lagi rekonstruksi upaya pemerkosaan tersebut untuk mengetahui penerapan pasalnya,”ujar orang nomor satu di jajaran Polres Sorong Kota ini.

Diwartakan sebelumnya, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi (PT) di Kota Sorong sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya, red) berusia 20 tahun nyaris diperkosa pamannya berinisial MB. Terduga pelaku merupakan oknum anggota Kepolisian Polres Sorong Kota.

Ditemui di lokasi kejadian daerah Remu Kota Sorong kemarin, korban mengungkapkan, kejadian itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIT -04.00 WIT Jumat 1 Juni 2018 pekan lalu saat ia memutuskan untuk bermalam di rumah yang pernah ditinggali pelaku bersama istrinya.

Rumah tersebut, kata korban, merupakan warisan almarhum neneknya yang dipercayakan kepada tantenya dan pelaku untuk dijaga.

”Jadi sejak sebulan lalu, tante saya (istri pelaku,red) dan pelaku sudah tidak tinggal bersama karena dia (pelaku, red) sering melakukan tindakan kekerasan ke tante saya,”ungkap pelaku.

“Tante saya tetap tinggal di rumah itu sementara pelaku tinggal di tempat lain. Pelaku juga sudah mengangkat seluruh barang-barangnya dari rumah tersebut,”lanjutnya.

Berhubung, lanjut korban, saat itu salah satu pamannya di yang berdomisili di Timika meninggal dunia maka tantenya berangkat ke Timika. Ketika rumah tersebut kosong, tantenya meminta dirinya untuk mengecek kondisi rumah berhubung saat itu sedang turun hujan.

“Jadi selama ini saya tinggal di Kilo 10. Karena pada hari itu hujan, tante saya meminta tolong untuk mengecek rembesan air. Saat itu saya langsung ke rumah tersebut untuk mengecek keadaan rumah,”ungkap korban.

Karena saat itu sudah kemalaman, korban kemudian memutuskan untuk bermalam di rumah tersebut. Ia pun mengutak atik ponsel miliknya dan akhirnya tertidur pada pukul 01.00 WIT. Namun sekitar pukul 03.00 WIT, korban terbangun dari tidur karena bekapan seseorang yang awalnya tidak ia kenali.

“Jadi waktu itu saya tidak tahu kalau yang membekap saya adalah pelaku, berhubung waktu itu lampu mati. Itu yang saya heran, padahal sebelum tidur saya tidak kasi mati lampu, saya curiganya dia yang kasi mati,”lugas korban.

Korban akhirnya mengetahui bahwa bahwa orang yang membekap dirinya adalah MB setelah ia melakukan perlawanan dan pelaku mengatakan “ko diam, kalau tidak saya pukul kau”.

“Waktu saya dengar suaranya itu baru saya tahu kalau dia MB. Dari suaranya saya yakin sekali kalau itu MB. Setelah itu dia kembali bertanya di mana tante mu? Di situ saya langsung menjawab Timika,”terang korban.

Setelah itu, sambung korban, ia kembali melakukan perlawanan hingga pada akhirnya pelaku yang saat itu sudah tidak berbusana menempelkan pisau ke lehernya. Ketakutan dengan pisau yang menempel di lehernya, korban akhirnya berhenti melakukan perlawanan.

 

Korban akhirnya kembali melawan setelah pelaku mencoba menurunkan celananya.”Di situ saya terus melakukan perlawanan hingga kepala saya terbentur di tembok,”kata korban. Korban kemudian meremas alat kelamin pelaku hingga pelaku melepaskan cengkramannya.”Setelah tangannya tidak ada di badan saya, saya langsung berteriak tolong-tolong,”ungkap korban.

Pelaku yang saat itu ketakutan langsung berkata kepada korban “saya kira ko istriku”. Setelah berkata demikian, pelaku akhirnya melarikan diri melalui pintu belakang.”Di ruangan samping kamar itu kan lampunya tidak dikasi mati, jadi pas dia lari melewati ruangan itu baru saya dapat lihat dengan jelas sosoknya,”ungkap korban.

Lanjut korban, saat itu ia langsung berlari keluar rumah untuk mencari pertolongan dan bertemu dengan tetangganya bernama Samsir. Baru saja ingin menceritakan kejadian yang menimpanya kepada Samsir, korban dikejutkan dengan kemunculan MB yang langsung berseru “ko lapor sudah”.

 

Setelah merasa aman, kata ia kembali masuk ke dalam rumah dengan maksud untuk mengamankan pisau yang dipakai pelaku untuk mengancamnya. Namun, di saat bersamaan pelaku juga berusaha masuk ke dalam rumah sehingga saling dorong mendorong pintu pun terjadi di antara keduanya. Karena pelaku lebih kuat, korban akhirnya memutuskan untuk kembali keluar dari rumah.

“Setelah saya di luar rumah, saya langsung telephone sepupu saya. Di situlah saya beserta sepupu saya masuk ke dalam rumah dan menemukan celana dalam milik MB. Setelah mendapatkan celana dalam itu, saya beserta sepupu saya langsung membuat laporan polisi (LP) di Mapolres Sorong Kota,”tuntas korban yang masih terlihat sangat trauma pasca kejadian tersebut. (pic)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *