Tak Bayar Tagihan, Listrik Asrama Mahasiswa Tambrauw di Makassar Diputus PLN

Seni & Budaya
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

FEF,Honaipapua.com, -Ketua Asrama Tambrauw kota Studi Makassar, Nimrbrot Yeblo, meminta pemerintah kabupaten Tambrauw agar segera merealisasikan biaya air dan listrik pada Asrama tersebut. Pasalnya, akibat belum terealisasi pembayaran yang dimaksud, mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut jadi tidak nyaman.

Ketua Asrama Tambrauw kota Studi Makassar, Nimrbrot Yeblo

” Hingga release ini di publikasikan pemerintah daerah kabupaten Tambrauw belum merealisasikan biaya untuk bayar air dan listrik di asrama mahasiswa Tambrauw Makassar,” sebut Nimbrot kepada media ini melalui pesan WhatsApp (13/4).

Menurut Nimbrot, pihaknya telah melakukan upaya-upaya untuk mendapatkan kepastian terkait realisasi pembayaran dengan menghubungi bagian kesejahteraan rakyat namun kabar yang ia dapatkan simpang siur, akibatnya listrik pada asarma tersebut telah diputuskan sejak 08 April 2021, hingga saat ini.

” Kalau dipandang dari UUD RI 1945 pasal 28H ayat 1, ayat 3. “ayat 1 setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”., “ayat 3 Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkingkan pengembagan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. Tapi ayat itu tidak berlaku kepada kita mahasiswa Tambrauw kota studi Makassar,” tegasnya.

Dia mengatakan kendala apa yang terjadi di Pemerintah Kabupaten Tambrauw khususnya bagian kesejahteraan rakyat sehingga pembayaran iuran tersebut mengalami kendala.

” Mungkin karena dinamika birokrasi pemeritahan dibilang jauh dari kata kurang baik, sehingga kami dimanfaatkan untuk dikorbankan,” sambungnya.

Menurut Yeblo hal tersebut yang dilakukan adalah model pembatasan semangat belajar generasi penerus orang asli Tambrauw.

” Ini tidak sesuai dengan budaya Tambrauw yang terkristarisasi dalam motto Kabupaten Tambrauw “Menjetu, Menjedik, Memben, Suksno,” katanya.

Dengan demikian pihaknya mengharapkan agar pemerintah kabupaten Tambrauw segera menindaklanjut hal tersebut. Karena apabila dibiarkan sehingga berlarut-larut maka mahasiswa akan menjadi korban ketidak adilan. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *