KRISIS MONETER DAN ANCAMAN DISINTEGRASI

Papua
Bagikan berita ini

Boven Digul,Honaipapua.com, -Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Firman Sampoerna menghadap Jokowi dan melaporkan bahwa Indonesia sudah memiliki utang yang banyak lebih dari  Rp. 6.000 Triliun. Negara kewalahan membayar bunga dan setoran pokok ditanggapi Orgenes Asmuruf, SE salah satu pengusaha asli Papua melalui pers releaesnya yang diterima media ini, 08/11/2022.

Orgenes Asmuruf, SE Pemerhati Ekonomi Sosial Politik dan HAM

Dikatakan Nilai oleh Orgenes bahwa sekarang ini nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar, dan ini pertanda bahwa bahwa krisis moneter akan terjadi. Bukan cuma krisis Moneter, tapi juga ancaman akan krisis pangan dan krisis Energi yang sudah mulai terasa. Tuturnya.

Lanjutnya, tahun 2023 dilaporkan bahwa krisis Energi dan Pangan akan terjadi, itu tandanya bahwa kelaparan akan terjadi dan juga kegelapan akan terjadi. Jika saja orang lapar maka akan timbul gejolak, kekerasan, kerusahan dan ancaman disintegrasi bangsa..

“Negara-negara dan bank Dunia yang memberi Utang kepada Indonesai terus menagih agar utang segera dilunasi di sertai pembayaran bunganya, ini membuat negara harus mencari uang dengan menaikan harga barang untuk mendapat uang, ” Jelasnya.

Menurutnya, jika saja terjadi Inflasi, maka daya beli masyarakat akan menurun, jika saja daya beli masyarakat menurun maka produksi pun menurun. Jika produksi menurun maka terjadilah PHK, dan menimbulkan banyak pengangguran.

Karena terjadi Inflasi secara global maka di Indonesia, para investor enggan berinvestasi karena takut rugi. Para Investor lebih memilih mendepositokan uang dan menikmati bunganya yang di bayarkan oleh pihak bank..

Apabila Indonesia gagal atau tidak mampu bayar pajak maka Indonesia bisa menjadi negara gagal. Banyak aset negara yang bisa disita sebagai jaminan. Salah satunya adalah Sumber Daya Alam yang di kuasai dan di garap oleh pihak asing.

“Krisis moneter atau disebut dengan kelangkaan uang. BI tidak bisa sembarang mencetak uang kertas tanpa seijin Bank Dunia, sebab dengan banyak mencetak uang maka makin melemah nilai tukarnya dan akibatnya uang itu tidak bernilai, ” Terangnya.

Jika saja Negara tidak memiliki uang untuk bayar utang negara dan juga mengoperasikan pemerintahan maka bisa saja gaji pegawai di kurangi, pajak di naikan operasional di kurang, dan menimbukkan kinerja yang menurun..

Untuk mengatasi kelangkaan pangan dan Energi, maka negara harus putar otak bagaimana caranya meminjam sehingga warganya tidak mati kelaparan atau hidup dalam kegelapan. Negara akan berusaha utang lagi untuk mendapatkan dana segar.

Jika saja negara tidak mampu mengatasi kelangkaan pangan dan energi maka ancaman konflik akan terjadi. Demo besar-besaran terjadi kerusuhan dan penjarahan dimana mana semua itu dilakukan demi kelangsungan hidup.

Dan juga Jika terjadi krisis moneter, maka uang akan sulit di dapatkan, upah atau gaji tenaga kerja akan dibayar murah, PHK besar-besaran akan terjadi, banyak investor yang gulung tukar, sebab terjadi inflasi, dan daya beli yang menurun dan akan berdampak pada Dis Integrasi bangsa. (Ril/Cak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *