Putera Pematang Siantar, Resmi Jabat Kasat Reskrim Kaimana

Papua Barat
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kaimana,Honaipapua.com, -Salah satu putera Sumatera Utara, yakni, AKP. Ronald Nobel Manalu, SIK,MH saat ini resmi menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Kaimana.

Putera Pematang Siantara kelahiran 24 November 1982 ini resmi menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Kaimana setelah serah terima jabatan pada 13 Desember 2019 yang lalu.

Putera Pematang Siantar yang kerap disapa dengan Ronald ini menghabiskan masa sekolahnya di Pematang Siantar, sejak jenjang SD hingga SMA. Sementara jenjang sekolah tingginya, dia habiskan di salah satu kampus yang ada di Jawa Barat.

Tepat tahun 2008, Ronald masuk ke Akademi Kepolisian dan lulus tahun 2010. Usai mengenyam pendidikan di AKPOL, dirinya petamakali ditempatkan di Polres Kulonprogo (Yogyakarta). Tahun 2016, Ronald kembali melanjutkan pendidikannya di PTIK sampai tahun 2017 dan lulus. Usai PTIK, dirinya dipercayakan untuk mengabdi di Polda Papua Barat tahun 2018.

Setibanya di Polda Papua Barat, Ronald dipindahkan ke Sorong dengan jabatan Kabagren Polres Sorong. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ronald kembali ditarik ke Polda Papua Barat, masuk di bagian Direskrimsus yang menangani kasus-kasus korupsi (Tipikor).

Dari Polda Papua Barat, akhirnya pria yang belum dikaruniai momongan sejak tiga tahun lalu menikah ini dipercayakan menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Kaimana.

Pria dari tujuh bersaudara ini, mempunyai motivasi tersendiri menjadi polisi, walaupun sempat dipaksa untuk masuk pendeta oleh teman-temanya selama kuliah dulu.

Pasalnya, dirinya mempunyai niat tulus ketika masuk menjadi polisi adalah memberikan kenyamanan kepada masyarakat, mengayomi masyarakat, dan bisa memberikan pengaruh positif kepada masyarakat dimanapun dirinya mengabdi.

“ Komitmen saya pribadi yakni bekerja sesuai dengan undang-undang dan aturan yang ada, tunduk kepada perintah atasan sesuai dengan prosedur, bersama-sama dengan seluruh pemangku peran untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di Kaimana ini. Saya secara pribadi, kita POLRI ini tidak bisa bekerja sendiri. Jadi harus ada koordinasi dan sinergitas antara kami POLRI dengan stakeholder yang ada di Kabupaten Kaimana ini,” ungkapnya.

Setelah mengetahui bahwa permasalahan yang muncul di Kaimana lebih didominasi karena miras, maka dirinya berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus terhadap produksi, peredaran serta penjualan minuman beralkohol di Kabupaten Kaimana ini.

“Setelah saya dalami beberapa hari ini, begitu juga dengan laporan dari teman-teman bahwa lebih banyak kasus terjadi di Kaimana ini karena miras. Makanya kami POLRI dengan stakeholder yang ada di Kaimana ini bagaimana mengambil langkah bersama-sama untuk mengatasi akar persoalan yang terjadi di Kaimana ini,” ungkapnya.

Dirinya juga berharap agar, perlu penangan korban miras dengan menyediakan fasilitas sel tersendiri bagi orang mabuk.

“Kalau untuk menangani miras ini tentunya kita tidak bisa hanya berharap dari pemerintah daerah. Kalau memang nanti kedepan, setelah komunikasi kita terbangun dengan baik dengan pemerintah daerah, dan bila pemda Kaimana merasa diperlukan, kita bisa sediakan satu sel khusus bagi orang mabuk. Karena orang mabuk ini kan tidak semuanya melakukan tindakan melanggar hukum, misalnya mengancam nyawa orang, ataupun tindakakan hukum lainnya. Ada yang hanya karena mabuk terus menimbulkan keributan, atau memalang orang dijalan. Kalau semuanya kita angkut ke polres, sel kita pasti penuh. Olehnya, mungkin ke depannya ada perda tentang penanganan orang mabuk yang meresahkan masyarakat ini, sehingga ketika dia mabuk, kita angkut dan ditempatkan disel tersendiri. Misalnya ditahan selama 10 hari dan seterusnya, lalu kita panggil keluarganya untuk memberikan efek jerah kepada mereka,” tuturnya.

Dirinya juga berharap agar seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Kaimana terus menjaga dan menciptakan situasi kondisi yang kondusif.

“Polisi bukan superman. Sehingga polisi juga harus bekerjasama dengan semua pihak untuk menciptakan kantibmas yang kondusif. Oleh karenanya, koodinasi dan sinergitas ini perlu dibangun. Saya kagumi orang Kaimana karena didaerah lain boleh bergejolak, tapi Kaimana masih tetap aman. Inilah bukti bahwa masyarakat Kaimana semuanya cinta damai, cinta keamaman, toleransinya tinggi dan selalu menjunjung tinggi kebhinekaan. Kami berharap agar hal ini terus dijaga, apalagi dengan adanya delapan rumah besar (suku asli Kaimana) yang terus menjaga marwah dan jati diri orang Kaimana,” pungkasnya. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *