Inilah 15 Hal Baru di TPS Pada Saat Pemungutan Suara

Papua Barat
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kaimana,Honaipapua.com, -Pelakasanaan pilkada pada massa pandemi seperti sekarang ini menjadi hal baru dan mungkin hanya satu kali dalam sejarah pemilu yang ada di Indonesia. Banyak mekanisme pelaksanaan pemilu yang harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Tidak hanya pada massa pendaftaran hingga kampanye saat ini saja, tetapi juga akan berubah pula mekanisme pemungutan suara di TPS pada tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

Divisi Teknis KPU Kabupaten Kaimana, Dominika Hunga Andung, S.SI

15 belas hal baru di TPS pada 9 Desember mendatang antara lain, maksimal 500 pemilih dalam satu TPS, pemilih wajib menggunakan masker, KPSS harus sehat, pengaturan kedatangan pemilih di TPS, menggunakan sarung tangan, mengecek suhu tubuh, penerapan sosial distancing (jaga jarak), pelindung wajah, desinfeksi TPS, tidak bersalaman, alat tulis sendiri, menggunakan tinta tetes, mencucui tangan, penyelenggara menyiapkan tissue kering, dan juga ada bilik khusus untuk pemilih yang suhu tubuhnya diatas 37,3 derajat.

Hal ini disampaikan oleh Divisi Teknis KPU Kabupaten Kaimana, Dominika Hunga Andung, S.Si ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (24/11).

“Jadi untuk pelaksanaan pilkada tanggal 9 Desember mendatang, ada perubahan terkait dengan prosedur ditingkat TPS, dimana perubahannya cukup signifikan. Untuk penerapan sosial distancing, maka ukuran TPS juga diharuskan 10 X 8 Meter. Sehingga penempatan pemilih dalam TPS juga harus disesuaikan dengan jarak sesuai dengan petunjuk yang ada, antara satu pemilih dengan pemilih lainnya,” ungkapnya.

Hal lain yang juga harus diperhatikan oleh pemilih adalah, akan disiapkan bilik khusus untuk pemilih yang suhu tubuhnya diatas 37,3 derajat. “Jadi ada bilik khusus yang nantinya disiapkan untuk pemilih yang suhu tubuhnya diatas nilai yang sudah ditentukan tadi. Jadi ketika diukur suhu tubuhnya dan suhu tubuhnya 37,3 ke atas, maka dia akan diarahkan ke bilik khusus, bukan di bilik umum. Terus pada saat memilih juga, dia harus didampingi. Jadi yang bersangkutan yang tentukan, apakah dia didampingi KPPS ataukah didampingi oleh pihak keluarganya,” ujarnya.

Lanjut wanita yang kerap disapa dengan Monic ini, ada Hazmat juga yang nantinya di akan dipersiapkan untuk KPPS dimasing-masing TPS.

“Demikian juga dengan alat pelindung diri lainnya (covid) yakni akan disiapkan Hazmat untuk KPSS. Ketika misalnya ada pasien yang tiba-tiba pingsan di TPS, maka KPPS menggunakan pakaian lengkap untuk membantu pemilih yang pingsan, untuk kemudian mendapatkan perawatan dari petugas kesehatan,” lanjutnya.

Selain itu, semprot disinfektan akan juga dilakukan, baik sebelum pelaksanaan pemungutan suara, maupun setelah pemungutan suara.

“Jadi TPS juga harus disterilkan terlebih dahulu dengan menyemprot disinfektan yang sudah dipersiapkan oleh petugas. Nanti setelah pemungutan suara ini kan ada jedah. Waktu jedah tersebut dipergunakan oleh petugas kami untuk menyemprot kembali disinfektan. Begitu juga dengan usai penghitungan suara. Sehingga penerapan protokol kesehatan ini benar-benar diterapkan pada saat pemungutan suara sampai pada penghitungan surat suara. Oleh karena itu, kami berharap, seluruh pemilih yang sudah terdaftar dalam DPT, maupun pemilih tambahan atau DPTb, bisa mengetahui hal ini lebih awal, sehingga nanti pada saat pelaksanaan, tidak kaget lagi. Hal ini juga akan kami sampaikan kepada seluruh KPPS pada saat bimtek, dengan harapan, nanti mereka bisa lanjutkan ke para pemilih,” ungkapnya. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *