Diduga Intimidasi Warga, PT.JDI Diminta Hengkang dari Kaimana

Papua Barat
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kaimana,Honaipapua.com, -Karena diduga telah melakukan intimidasi kepada warga pemilik hak ulayat di kampung Urubika Distrik Yamor Kabupaten Kaimana, maka warga meminta PT.Jati Dharma Indah diminta untuk segera keluar dari wilayah Kaimana.

Intimidasi ini dilakukan karena pihak perusahaan tidak mau warga menjual kayu siku-siku kepada pihak lainnya selain PT.Jati Dharma Indah. Padahal, warga mempunyai hak untuk menjual kayu siku-siku tersebut kepada pihak lainnya, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Menurut pengakuan salah satu anggota DPRD Kaimana dari Fraksi Demokrat, Apolos Wetebosi yang juga dipilih oleh masyarakat dari distrik Yamor mengakui bahwa pihkanya sudah mendapatkan bukti perlakuan intimidasi kepada warga tersebut, dan sudah menyampaikan kepada pimpinan DPRD Kaimana untuk ditindaklanjuti.

“ Dari laporan warga dan disertai dengan barang buktinya sudah kami terima. Dan dari laporan warga bahwa piihak perusahaan dalam hal ini PT.JDI melakukan tindakan intimidasi kepada warga yang ada di sana. Pihak perusahaan tidak mau, warga menjual kayu siku-siku kepada pihak lainnya. Padahal warga disana juga kan membutuhkan uang dari hasil penjualan kayu siku-siku tersebut sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” ungkapnya.

Apolos juga mengungkapkan kekecewaannya lantaran apa yang dilakukan oleh pihak perusahaan tidak bermartabat, karena melibatkan pihak keamaman untuk melakukan intimidasi kepada warga.

“ Ini yang sangat saya sesalkan, kenapa mereka melibatkan pihak keamanan untuk menakut-nakuti warga. Harusnya pihak perusahaan bertemu langsung dengan masyarakat pemilik hak ulayat untuk membicarakan hal ini. Jangan pihak keamanan digunakan sebagai tameng. Dan saya pasti akan terus menelusuri, pihak keamanan siapa yang sudah melakukan intimidasi kepada warga. Akan saya telusuri sampai polda, aparat siapa yang sudah melakukan intimidasi itu,” ujarnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa sejak beroperasi dari bulan Oktober hingga saat ini, pihak perusahaan tidak menyanggupi kesepakatan yang sudah disepakati bersama.

“ Dari bulan Oktober, mereka mengatakan bahwa mereka akan memberikan kompensasi kepada masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan. Tapi sampai hari ini sejak beroperasi, mereka belum melaksanakan kesepakatan tersebut. Ini kan namanya sudah menipu masyarakat Yamor khususnya pemilik hak ulayat dari kampung Urubika,” lanjutnya.

Sementara itu, menindaklanjuti hal tersebut dirinya meminta kepada pimpinan DPRD untuk menindaklanjuti laporan masyarakat ini, sehingga masyarakat bisa mendapatkan haknya.

“ Mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka perbuat kepada warga ini. Kami tadi sudah sampaikan kepada pimpinan DPRD, dan tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat akan dibentuk tim dan akan turun ke Yamor untuk mengecek hal ini. Mereka ini sudah salah, karena mereka beropeprasi di Kaimana, tetapi membuka pabriknya di tempat lain, bukan di Kaimana. Kekayaan alam kita mereka ambil tapi kita tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Barat, AKBP. Adam Erwindi, SIK,MH ketika dikonfirmasi melalui telepon celularnya mengakui bahwa pihaknya belum mendapatkan laporan tersebut. Namun pihaknya mengatakan bahwa akan melakukan kroscek hal tersebut, kalau memang ada anggota Brimob yang bertugas di perusahaan tersebut yang juga ikut mengitimidasi warga kampung Urubika Distrik Yamor. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *