WAJAH MANUSIA

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

WAJAH MANUSIA

Oleh; Melky Molle (Dosen Universitas Halmahera Tobelo Maluku Utara)

Wajah manusia dengan ketelanjangannya menampakan belas kasihan. Wajah itu eksistensi manusia, bukan sebaliknya wajah dilihat sebagai sesuatu yang tampak tanpa makna. Wajah itu makna, representasi Ilahi. Wajah harus dihargai sebagai tampak yang lain, karena tanpa yang lain, kemanusian kita juga menjadi ancaman.

Wajah yang lain dengan berbeda warna, adalah ketelanjangan wajah manusia yang tegas. Hitam, coklat, putih, dan kuning, bukan alasan kita saling meniadakan. Jelek, cantik, tampan, ganteng sexi adalah ketegasan wajah yang harus dikasihani.

Karena itu konsep Imagodei (Wajah Ilahi) sesungguhnya menegasikan secara nyata, bahwa wajah Ilahi yang tak terlihat secara kasad mata, ditransformasi dalam wujud kelemahan wajah manusia.

Manusia adalah person otonom yang bereksistensi. Mereka ada karena sang pengada, kebebasan ada pada mereka oleh karena keterberiannya. Mereka adalah cahaya subjektifitas, supaya menjadi manusia tanpa demarkasi yang memperjelas objeketifitasnya.

Karena itu setiap wajah manusia adalah wajah yang minta tolong. Wajah belaskasihan, wajah yang lemah, dan wajah yang rapuh. Meminta belas kasihan kepada orang lain adalah hakekatnya yang paling dominan, dan yang paling dalam.

Sartree pernah berkata: menjelekan orang lain, memfitnah, dan menyakiti hati dengan cara kekerasan fisik dan atau spisikis adalah perbuatan pengobjekan atau mengobjekan. Karena itu dengan mengatakan orang lain buruk dan jelek, berarti kita “berpikir lebih mendahului esensi dari pada eksistensi”. Yang Ilahi sebagai pengada adalah esensi, wajah manusia sebagai keterberiannya adalah eksitensi. Jadi menghargai orang lain apapun keberadaannya adalah bentuk pengamalan eksistensi manusia sebagai keterberian Ilahi.

Karena itu jika manusia adalah person otonom yang bereksistensi, maka manusia memiliki ekspresi dirinya dan kebebasan ada padanya, karena keterberiannya dari sang pengada. Penghargaan kepada wajah atau person manusia dengan keterberiannya adalah mutlak dihargai sebagai eksistensi Ilahi.

Pengobjekan manusia lain ( the other) seperti Kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan dan penindasan adalah perbuatan pengobjekan wajah manusia yang paling kejam dimuka bumi ini. Karena itu, esensi Ilahi haruslah dimaknai sebagai hakekat Manusia dalam dirinya sebagai person yang bereksistensi. Kasih sayang terhadap sesama, sebagai manusia atas keterberian Ilahi lewat wajah yang minta tolong haruslah ditransformasikan sebagai hakekat perbuatan manusia hari ini dan seterusnya.

Imago dei adalah wajah Ilahi yang ditranformasikan dalam wujud wajah manusia, oleh karena kasih sayang dan penghargaan untuk sesama ciptaan. Menghargai wajah manusia yang minta tolong, sama halnya mengahargai Allah dalam karyanya.

Wajah yang minta tolong terwujud dalam kisah anak manusia yang lahir di kandang domba, di Yerusalem di Palestina. Cerita penolokan ini tersebar sampai ke penjuru dunia, hanya karena resistensi (penolakan), terhadap Bay munggil bersama kedua orang tuanya, karena wajahnya yang rapuh tak berdaya. Minta tolong kepada mereka yang memiliki penginapan ditolak, sampai kepada kandang domba, kandang binatang peliharaan para gembala. Penolakan demi penolakan Ia tempuh. Mulai dari bay sudah ditolak, sampai masa dimana Ia harus bersekutu, memiliki teman dan memiliki komunitas agama. Ia adalah manusia yang ditolak sejak lahir, tapi Ia tetap mengasihi manusia sama seperti diri-Nya.

Ia adalah manusia pembelajar, mengasihi tanpa batas, tanpa lelah, walau nyawa jadi taruhan-Nya. Karena itu Ia diberi nama Imanuel, “Allah beserta kita”. Bukan Dia saja yang disertai Ilahi, walau Dia pemberi dan pembelajar yang diberi mandat Ilahi, bagaimana mengasihi sesama. Mengangkat wajah manusia dari penolakan, dan memberi harapan yang mengembirakan. Menyembuhkan orang lumpuh, yang jadi objek bulan-bulanan, menyembuhkan orang buta, dan membangkitkan orang mati.

Wajah manusia memiliki makna yang dalam. Untuk mengenal wajah manusia yang minta tolong, kita butuh kepekaan dan empati, untuk mengenal wajah yang minta tolong, kita butuh hikmat Allah karena hikmat lebih tinggi dari pengetahuan. Wajahmu, adalah wajah Allah. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *