Usia 71 Tahun, GMKI Mau Kemana?

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Usia 71 Tahun, GMKI Mau Kemana?

Oleh : Sefnat Tagaku (Aktivis GMKI Tobelo)

Sefnat Tagaku (Aktivis GMKI Tobelo)

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), adalah merupakan organisasi pengerak, yang bergerak pada medan panggilan pelayanannya, yakni; gereja, perguruan tinggi dan masyarakat. Sebelum jauh GMKI di lahirkan di bumi pertiwi ini, ada salah satu wadah telah di bentuk dan menjadi cikal bakal dari GMKI, yakni; Christelijke Studenten Vereeniging op Java (CSV) yang di dirikan pada 28 Desember 1932 di Kaliurang, Yogyakarta, Indonesia.

Wadah ini kemudian berubah menjadi Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) setelah di bubarkan atas kekuasaan pemerintah Jepang dan kemudian melebur diri menjadi GMKI, tepat pada tanggal 9 Februari 1953.

Tentunya, kehadiran CSV, PMKI hingga GMKI memiliki alasan yang sangat mendasar, yakni; untuk menjawab setiap problem (penindasan, diskriminasi, marjinalisasi, pembodohan dan eksploitasi) yang di hadapi oleh bangsa dan negara ini.

Atas realitas hidup yang semacam itu, semangat pergerakan untuk melakukan perubahan-perubahan dari setiap problem yang di alami pun di lakukan. Termaksud, kehadiran CSV yang adalah cikal bakal GMKI pun turut menggumulinya.

Kehadiran GMKI pula sangat sadar akan ada berbagai keberagaman di negara Indonesia, baik dalam bergereja (denominasi), maupun berbangsa (agama, suku, budaya, etnis, ras, dll). Sehingga suara yang selalu di kumandangkan adalah, ‘Ut Omnes Unum Sint’.

Kalimat tersebut di ambil dari bahasa Latin, yang berarti; ‘Agar Semua Menjadi Satu’ (bdk. Yoh. 7:21). Kalimat tersebut pula, adalah merupakan Doa Yesus kepada Murid-murid-Nya. Satu yang di maksudkan, bukan memaksakan perbedaan itu di satukan tanpa ada yang berbeda. Tetapi, justru menjunjung perbedaan itu sebagai kekuatan bangsa dan gereja yang majemuk.

Jika sejarah GMKI seperti demikian, maka apa yang dilakukan GMKI di era ini, dengan usia ke 71 tahun?

Usia 71 tahun, jika di hitung pada usia manusia, tentu manusia tersebut sudah berada pada lanjut usia. Itu berarti, GMKI hari ini sudah sangat dewasa. Kedewasaan GMKI, pun menjadi tantangan besar untuk turut menjawab misi nya di tengah kehidupan Gereja, perguruan tinggi dan masyarakat, yang adalah medan panggilan pelayanannya.

Apalagi, di era ini berbagai peristiwa tragis (Kelompok pemecah persatuan bangsa, pembunuhan, rasisme, pemerkosaan, serta korupsi) yang masih belum pudar dari wajah kehidupan bangsa kita hari ini. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah merupakan tantangan bagi GMKI di tengah kehidupan negara ini.

Meski tantangan yang di hadapi begitu berat, tetapi sebagai organisasi gerakan yang menginginkan akan adanya perubahan (kemerdekaan sesungguhnya), harus mampu membangun pola pergerakan yang mampu merubah realitas hidup di hari ini, yang di dasari pada Kasih Kristus sebagai kepala penggerak.

GMKI harus menfokuskan diri untuk membangun kaders, yang sesuai pada tri panji nya. Yakni; menjadi kader yang tinggi iman, tinggi ilmu serta tinggi pengabdian. Sehingga gerakan ini tidak pasif akan kondisi kita hari ini, melainkan selalu aktif dalam mendorong kebijakan-kebijakan yang berpihak pada masyarakat seutuhnya. Karna jika tidak, maka setiap kader yang di lahirkan di wadah ini, adalah kader yang berorientasi pada kepentingan pribadi, ketimbangan kepentingan kemaslahatan umat.

Akhirnya, melalui catatan ini, saya mengucapkan selamat panjang umur wadah yang telah melahir banyak orang hebat, semoga semangat oikumenis dan nasionalis selalu menjadi pribadi setiap kader’s nya, demi menuju negara dan gereja yang kuat dari tantangan. Tetaplah menjadi perahu yang tetap utuh, dalam menyebrangi lautan bergelombang, untuk lahirnya nakhoda yang hebat. Ut Omnes Unum Sint!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *