Tuhan Ada Dalam Badai Ini

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tuhan Ada Dalam Badai Ini
(Sefnat A. Hontong)

Harapan kita tidak boleh pupus dalam menghadapi badai hidup ini, walau hal itu tidak mudah dilakukan. Data yang tersodor kepada kita dari hari ke hari memperlihatkan penyebaran virus Corona makin meluas di daerah dan Negara kita; sebuah gambaran yang menggelisahkan kita semua.

Pdt. Sefnat A. Hontong, M.Th

Agaknya usaha membatasi penyebaran virus Corona perlu ditingkatkan efek dan efisiesinya, jika tidak mau meluas dan membinasakan lebih banyak orang lagi. Kerja keras dan kerja sama antar elemen dalam masyarakat harus lebih dipoles agar menjadi lebih bagus. Intinya semua pihak harus makin seiring dan sejalan; baik dalam kata maupun dalam perbuatan.

Dalam bahasa iman, nampaknya kita harus tetap dalam cara pandang dan semangat ora et labora. Supaya jangan hanya jago berkata-kata (berdoa), tetapi loyo dalam tindakan nyata (bekerja), karena hal semacam ini percuma dan sia-sia.

Salah satu langkah yang bisa kita lakukan dalam gerak seiring dan sejalan ini adalah membangun pemahaman yang sama dan melihat bahwa Tuhan ada dalam badai ini. Tetapi apa arti ‘Tuhan ada dalam badai ini’? Apakah hal itu berarti Tuhan datang menghukum dan membinasakan kita? Ataukah dalam badai ini ada Tuhan yang penuh Kasih sayang, yang siap mengulur tanganNya untuk menolong dan mengangkat kita dari badai ini. Mari kita periksa dan belajar dari pemazmur 71 ini.

Menurut ayat 9 dan 18, mazmur ini ditulis oleh seorang yang sudah lanjut usia dan putih rambutnya. Sebagai seorang yang sudah lanjut usia dan sudah putih rambutnya, ia tentu adalah seorang yang sudah banyak makan garam, terutama dalam menjalani badai hidupnya di dunia ini.

Pergulatannya yang hebat dalam menghadapi badai hidupnya itu terlihat jelas dalam kata-katanya mulai ayat 1-18, seperti: ‘aku berlindung’ (ayat 1); ‘lepaskanlah aku, luputkanlah aku dan selamatkanlah aku’ (ayat 2); ‘jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh’ (ayat 3); ‘dari cengkeraman’ (ayat 4); ‘Engkau harapanku’ (ayat 5); ‘kepadaMulah aku bertopang’ (ayat 6); ‘Engkaulah tempat perlindunganku yang kuat’ (ayat 7); ‘jangan membuang aku dan jangan meninggalkan aku’ (ayat 9); ‘janganlah jauh dari padaku (ayat 12); dan ‘janganlah meninggalkan aku’ (ayat 18).

Semua kata-kata itu hendak menunjuk bahwa sang pemazmur sungguh ada dalam badai hidup yang hebat, dan di dalam badai hidup yang hebat itulah ia memanggil Tuhan untuk menolongnya. Kalau dia memanggil Tuhan menolongnya dalam menghadapi badai hidupnya yang hebat itu, berarti Tuhan ada di situ, Tuhan ada di tengah-tengah badai itu.

Sebagaimana yang ditegaskannya dalam ayat 20: “Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka, Engkau akan menghidupkan aku kembali, dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali”. Ungkapan ‘Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka’ bukan menunjuk pada Tuhan sebagai penyebab badai itu, melainkan pada keberadaannya sebagai seorang yang tak berdaya dalam menghadapi badai itu, dan hanya bisa bertahan jika berharap pada pertolongan tangan Tuhan yang penuh kasih.

Keberadaannya sebagai makhluk yang tak berdaya, yang hanya bisa bertahan karena pertolongan tangan Tuhan itu jelas dalam kalimat ‘dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali’. Alkitab BIS menterjemahkan kalimat ‘samudera raya’ dengan ‘kuburan’. Kata ini berasal dari kata Ibrani ‘tehom’. ‘Tehom’ dalam bahasa Ibrani berarti ‘suatu area yang penuh dengan kemelut hidup, yang membuat seseorang tidak dapat berbuat apa-apa lagi’. Berada di area ini ibarat berada di dalam kubur saja, maka jangan heran apabila Alkitab BIS menterjemahkan kata ‘tehom’ dengan ‘kuburan’. Semata-mata hal itu mau menunjuk pada pengertian bahwa saat berada di area tehom orang tak akan berdaya lagi, kaku dan tidak bisa buat apa-apa. Sebuah gambaran sikon hidup yang penuh dengan badai yang kencang dan hebat. Tetapi, bagi pemazmur, justru di situlah; di area tehom itulah Tuhan sedang menanti dengan KasihNya dan siap menolong setiap orang yang memanggil namaNya.

Di area ‘tehom’ itu; di area badai itu, ada Tuhan yang sedang menunggu dan siap mengulur tanganNya untuk menolong dan mengangkat orang yang tak berdaya, kaku dan tidak bisa buat apa-apa itu. Tuhan yang berada di area ini adalah Tuhan yang mengasihi, bukan Tuhan yang menghukum.

Tuhan yang mengasihi ini juga yang pernah diyakini oleh Ayub dalam menjalani badai hidupnya, sehingga ia dipulihkan dengan penuh kelimpahan dalam Ayub pasal 38-42. Di kemudian hari rumusan Tuhan yang mengasihi ini disimpulkan oleh rasul Paulus dalam Roma 8:1 “Demikianlah sekarang, tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”. Itulah Tuhan yang ada dalam badai hidup ini, Tuhan yang sedang menunggu dan siap menjemput serta menolong orang-orang yang memanggil namaNya, siapun dia dan di manapun dia berada. Panggillah Dia, sebab Dia ada dalam badai hidup ini, sambil terus bekerja keras dan bekerja sama dalam mengatasi penyebaran dan perluasan badai virus Corona, sebagai wujud semangat kita dalam ber-ora et labora.

Kalau kita yakin Tuhan ada dalam badai ini, tetapi kita terus berpangku tangan dan tidak berusaha memanggil namaNya serta acuh tak acuh dalam mempraktekkan cara hidup sehat, maka apa artinya Tuhan yang ada dalam badai ini? Percuma dan sia-sia saja Dia menunggu kita di area ini; di dalam badai ini. Sekaranglah saatnya memanggil Dia, sebab Dia ada dalam badai hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *