Tantangan dan Peran Gereja di Masa Pandemi

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tantangan dan Peran Gereja di Masa Pandemi

Oleh : Sefnat Tagaku, Ketua OKK GAMKI Halsel

Masa pandemi covid-19 atau virus corona yang di mulai dari Wuhan, hingga sekarang hampir seantero dunia, terlebih khusus Indonesia (akhir 2019), sudah sangat meresahkan. Hal ini karna berbagai sendi kehidupan manusia ikut terganggu, akibat serangan dan bahayanya virus corona. Baik itu sendi pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, politik, bahkan agama (cara beribadah). Akibat bahaya virus ini pula, berbagai kebijakan dilakukan oleh pemerintah pusat hingga daerah, untuk penangan dampak corona, serta upayah pemutusan mata rantai.

Tentunya, setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah memiliki dampak serta konsekuensinya sendiri dan itu sangat berpengaruh pada gaya hidup masyarakat, termaksud cara bergereja (beribadah). Mulai dari batas kuota umat di dalam gereja (jaga jarak), sampai pada pemakaian masker dalam beribadah. Hal ini mungkin terasa ganjil, bahkan mungkin dirasakan tidak nyaman dan alasan lainnya, karna tidak seperti biasanya cara bergereja yang demikian. Apalagi, perayaan natal kemarin serta tahun baru yang biasa dilakukan dengan berbagai riak-riak, namun terpaksa harus dilakukan dengan sesederhana mungkin, karna mendapat penjagaan ketat dari pihak keamanan. Akan tetapi suka atau tidak, hal ini harus di patuhi oleh setiap umat gereja yang adalah warga negara.

Dalam konteks itu, gereja justru di perhadapkan dengan pergumulan, atas berbagai peristiwa yang di alami oleh umat (baca : Peristiwa di Sigi, pembunuhan pendeta di Papua) di negara ini. Keadilan terasa hilang dari hidup gereja, suara keresahan selalu di utarakan pada telinga penguasa. Seolah permohonan tak lagi bertuan yang di sampaikan. Akan tetapi itulah realitas hidup yang harus terus di gumuli oleh gereja, di tengah-tengah kehidupan negara ini. Gereja pula harus terus menyuarakan jiwa nasionalismenya di tengah keberagaman ini.

Masih Adakah Harapan Untuk Hidup di Tahun 2021?

Berbagai peristiwa panjang telah di lalui bahkan di gumuli oleh gereja di sepanjang tahun 2020, yang telah penulis tuangkan di atas. Bahkan hingga saat ini pandemi covid-19 masih juga belum berakhir dan itu adalah tugas serta kewajiban gereja untuk terus di gumuli. Harapan tentang berakhirnya badai ini, harus terus di sampaikan di atas altar, untuk umat dan seluruh rakyat Indonesia. Bahkan harap dan Doa terus di kumandangkan kepada pencipta langit dan bumi, agar pencerahan dari padaNya untuk hati dan segala pikiran manusia, untuk tidak lagi terjadi segel gereja (pelarangan membangun gereja), bom gereja bahkan peritiwa lainnya yang telah gereja rasakan di sepanjang tahun sebelumnya. Bahkan gereja pula harus selalu bersikap nasionalis dan terus menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila.

Rendah hati yang di praktekan Yesus Kristus sebagai kepala gereja, harus di jadikan teladan bagi setiap umat. Menjalani hidup dengan Kasih adalah perintah yang harus di terapkan di tengah kehidupan yang beragam, serta menjadi pribadi umat yang berhikmat. Maka yakinlah, Tuhan akan selalu menyertai kita (Imanuel) apapun kondisi yang kita harapkan dan jaminan untuk hidup akan di curahkan di negri ini. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *