Refleksi Natal : Siapa Saudara Kita?

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Refleksi Natal : Siapa Saudara Kita?

Oleh: Sefnat Tagaku Mahasiswa Universitas Halmahera

Natal merupakan sebuah momentum penting dan berharga bagi umat Kristen, dalam menghayati kasih besar Allah kepada manusia, melalui kelahiran Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menyelamatkan dan membebaskan.

Di tahun 2021, kita semua telah melewati momentum tersebut, dengan suguhan tema dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), “Cinta Kasih Kristus Yang Menggerakan Persaudaraan”.

Tema ini berlaku bagi semua gereja di Indonesia. Hal ini sebagai wujud gereja pun turut menggumuli akan kehidupan bangsa dan negara ini. Pergumulan gereja salah satunya adalah Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum juga berakhir. Apalagi, belum lama ini kita di kabarkan ada temuan varian baru.

Hal ini tentu akan menjadi pergumulan besar kita semua, termaksud gereja. Selain itu, ada banyak hal yang juga di gumuli oleh gereja, yakni; maraknya kekerasan seksual, rasisme dan kasus-kasus lainnya yang mengancam kehidupan bernegara.

Dalam teks tema yang di gunakan oleh PGI di atas, di kutip dari Alkitab 1 Petrus 1:22. Teks tersebut, merupakan surat rasul Petrus kepada orang-orang Kristen yang berada di Asia kecil, untuk menjadi penguatan bagi mereka. Hal ini di karnakan atas ketertindasan yang mereka alami di Asia kecil.

Sebagai kelompok minioritas di Asia kecil, umat Kristen di sana di sampingkan dari berbagai kehidupan sosial. Dalam konteks kehidupan umat Kristen yang semacam itulah, Rasul Petrus hadir dengan suratnya untuk memberikan penguatan, bahwa Cinta dan Kasih Yesus kiranya tetap memelihara dan menghidupkan persaudaraan.

Situasi teks seperti itulah, maka pada catatan ini penulis lebih menekankan pada kata ‘persaudaraan’, yang mengkotekskan pada kehidupan yang beragam, baik budaya maupun agama. Pasalnya, setiap perbedaan apapun akan sangat berpotensi terjadinya konflik.

Memaknai Persaudaraan yang Sejati

Jika ada orang yang hendak bertanya; Siapa saudara kita? Maka pasti sebagian besar diantara kita atau mungkin seluruhnya akan menjawab sesuai garis keturunan. Jawaban itu tentu tidak salah, karna sesuai dengan arti saudara. Akan tetapi, Alkitab lebih meluaskan pemahaman dalam memahami kata persaudaraan.

Persaudaraan yang dimaksudkan oleh Alkitab, tidak sebatas pada garis keturunan, melainkan mencakup pengertian luas. Bahwa setiap insan yang di ciptakan oleh Allah adalah bersaudara. Nah, pengertian persaudaraan ini bisa juga termaksud, hewan dan tumbuhan, bahkan alam ini.

Hal tersebut bisa di lihat atas sikap Yesus pada orang-orang yang bertanya, di saat Dia hendak mengajarkan orang banyak (Mat.12:46-50). Bahwa menurut Yesus, saudara-saudara dan ibuNya, bukan mereka yang melahirkan atau tinggal bersamaNya, melainkan yang melakukan perintah Allah.

Yesus tidak menekankan bahwa ibu dan saudaraNya, dari ukuran suku, budaya, bahasa, bahkan agamanya. Karna itu, perbedaan apapun tidak harus membatasi ruang persaudaraan yang sesungguhnya. Sikap Yesus tersebut nampak jelas, bawah persaudaraan tidak sebatas garis keturunan. Namun semua yang di ciptakan oleh Allah adalah bersaudara.

Maka sangat penting, makna persaudaraan itu di terapkan pada kehidupan bernegara yang mengandung keberagaman, baik suku, budaya, bahkan agama. Sebagai orang yang mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan, wajib hukumnya untuk kita saling mengasihi kepada semua orang, yang itu merupakan saudara kita.

Sebab jika persaudaraan menjadi hancur, maka akan berdampak pada kehidupan sosial kita. Karna itu, biarlah dalam merefleksikan dan menghayati peristiwa natal di tahun ini, kita semua benar-benar memaknai arti sejati dari persaudaraan, untuk menuju pada Indonesia maju dan kuat.

Selamat merayakan natal 25 Desember 2021 dan Menyonsong tahun baru 1 Januari 2022, Tuhan menolong kita dalam menggerakan persaudaraan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *