PERIKORESIS “Sebuah Tarian Kemajemukan” Oleh Steven Sambaki (Pdt. GMIH Maluku Utara)

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PERIKORESIS “Sebuah Tarian Kemajemukan”
Oleh Steven Sambaki (Pdt. GMIH Maluku Utara)

Salah satu metafora paling atraktif untuk perikoresis adalah metafora tarian, di mana ketiga pribadi Tritunggal bergerak bersama di dalam sebuah tarian kekal yang harmoni dan penuh kasih. Secara etimologi, terjemahan dari istila perikoresis berasal dari kata kerja perichoreo.

Peri artinya melingkar, dan choreo artinya memberi ruang. Perikoresis adalah salah satu konsep yang digunakan oleh para teolog untuk memahami doktrin mengenai Allah Trinitas antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kata perikoresis menunjuk pada suatu keadaan di mana ada dua atau lebih pribadi-pribadi yang tinggal bersama dan mereka semua bersatu, tidak terpisah atau terbagi.

Jika dilihat dari bahasa aslinya perichoreo, maka perikoresis dapat dijelaskan sebagai tindakan dari anggota Trinitas yang ketiganya saling meresap, merasuk satu dengan yang lain dikarenakan peleburan mereka. Perikoresis menunjukan secara spesifik kepada pergerakan atau interpenetrasi yang mutual dari atribut-atribut Ilahi dan manusiawi Kristus. Allah dalam perikoresis melalui Bapa, Anak dan Roh Kudus terhubung bergerak bersama yang satu dengan yang lain.

Jurgen Moltmann, menyebut perikoresis sebagai sebuah konsep kuno yang berfokus pada “komunitas tanpa uniformitas, dan personalitas tanpa individualisme”. Pernyataan Moltmann, menunjukan kepada nilai utama perikoresis dalam hal memperhatikan prinsip pribadi di dalam persekutuan, yang mana kesatuan dan perbedaan di dalam Trinitas dipertahankan.

Gregorius Nazianzus adalah Bapa Gereja pertama yang memulai tulisan-tulisannya tentang konsep perikoresis secara teologis dalam bentuk kata kerja (perichoreo). Perikoresis dalam pemikiran Para Bapa Gereja Yunani berkembang dari perikoresis hakikat (dua hakikat Kristus), kepada perikoresis pribadi (tiga pribadi dari Trinitas) dan pada akhirnya kepada perikoresis realitas (partisipasi kosmik di dalam kehidupan Allah Tritunggal).

Perikoresis adalah gerakan tarian di dalam sebuah ruang yang tidak seragam, tetapi terlihat menakjubkan dan harmoni sehingga dalam pandangan orang lain, terian yang berbeda-beda itu menjadi satu tarian yang baru.

Seperti anda sedang menonton pentas tarian, di dalam ruangan itu ada yang memperagakan tarian cakalele, ada yang memperagakan tarian gumatere, ada yang memperagakan tarian soya-soya, ada yang memperagakan tarian tide-tide dan ada juga yang memperagakan tarian lalayon. Anda yang menonton pentas tarian itu akan melihat kolaborasi tarian itu sebagai satu tarian yang “baru”.

Dalam hati anda berbisik, wow amazing, itu indah. Itulah perikoresis, itulah Trinitas, berbeda dalam kesatuan. Bertolak dari itu, konsep perikoresis juga digunakan sebagai dasar dan kerangka berpikir yang utama dalam menjelaskan konsep kehidupan bersama, relasi, maupun konsep pluralisme.

Menurut Raimundo Panikkar, Trinitas mejadi sebuah kunci penafsiran terhadap realitas agama-agama, mengacu pada konsep perikoresis yang berarti tinggal di dalam satu sama lain. Secara khusus, konsep perikoresis mengajak kekristenan untuk bersikap terbuka, merangkul dan melakukan mutual-encounters dengan “yang lain (the other)”.

Provinsi Maluku Utara adalah salah satu provinsi yang dikenal dengan“multietnik”. Dari kemajemukan tersebut, tentu tidak bisa dipungkiri bahwa sering terjadi ‘konflik’ yang disebabkan karena perbedaan-perbedaan itu, baik suku, budaya dan agama. Bahkan bukan tak mungkin perbedaan pilihan politik juga bisa menjadi indikator pemicu ‘konflik’ meskipun satu suku, budaya atau agama.

Sebagian konflik yang terjadi di Maluku Utara disebabkan karena etnologi sukubangsa. Ingatkah kita bahwa di Halmahera Utara, sudah beberapa kali terjadi konflik horizontal yang disebabkan kerana perbedaan suku, budaya dan agama, bahkan perbedaan-perbedaan itu juga berdampak pada keutuhan gereja.

Sebagaimana sebelumnya, realitas Maluku Utara adalah “multietnik”, masyarakatnya kaya akan kemajemukan. Kemajemukan ini dapat menjadi kekayaan masyarakat yang sangat produktif, jika kemajemukan ini didasarkan dan dihargai bersama.

Namun, bisa juga menjadi kekayaan yang produktif untuk tumbuhnya permusuhan katika kebencian, keangkuhan dan klaim terhadap kebenaran masing-masing muncul di tengah masyarakat. Perbedaan sebenarnya tidak menuntut kesamaan. Jika perbedaan menuntut kesamaan sama saja dengan berharap memeluk bulan.

Perbedaan seyogianya mengharapkan persatuan, pengertian, pemahaman, pengakuan, dan penerimaan satu sama lain. Persatuan sejati tercermin dalam sikap yang berani terbuka, mengaku, dan menerima bahwa kita memang berbeda, tetapi tidak harus saling menyerang, saling menyalahkan, dan bahkan saling menjatuhkan.

Saya tidak perlu memaksakan orang lain untuk mejadi saya, sebaliknya orang lain tidak perlu memaksakan saya untuk menjadi sama dengan mereka. Yang terpenting adalah dalam perbedaan kita saling mengharagai serta membangun komitmen bersama dalam sikap kompromi antara satu dengan yang lain.
Seperti pernyataan Raimundo Panikkar, Trinitas mejadi sebuah kunci penafsiran terhadap realitas agama-agama mengacu pada konsep perikoresis yang berarti tinggal di dalam satu sama lain.

Selain itu, saya telah mengatakan sebelumnya bahwa perbedaan bukan alat untuk saling menyerang dan bahkan menjatuhkan. Dalam kemajemukan ada kesetaraan antara satiap manusia sebagai ciptaan Allah. Seperti peribahasa yang mengatakan “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Itulah manusia, dalam kemajemukan tidak ada yang lebih berharga di mata Tuhan, semuanya sama. Sebagaimana Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga pribadi dalam satu hakekat ke-Allahan-Nya, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah tetapi ketiganya setara, demikian juga manusia adalah setara, tidak ada yang berkuasa dan yang tertindas, tidak ada yang lebih kuat dan tidak ada yang paling lemah. Semuanya harus bersikap jujur, adil dan saling menerima sebagai sesama ciptaan Allah Tritunggal.

Karena itu, kemajemukan akan menjadi kekayaan yang prodiktif jika masyarakatnya saling menghargai, kompromi dan saling menerima. Konsep perikoresis memberikan pencerahan bahwa di dalam kemajemukan itu kita semua “menari” bersama, dengan tarian yang berbeda-beda, terkadang saling membentur, namun tetap tersenyum, semua bahagia dan menikmati “gaya” tersendiri tanpa memandang perbedaan yang lain, sehingga terlihat harmonis dan menakjubkan, wow amazing! Karena itu, perbedaan suku, budaya, agama dan bahkan perbedaan pilihan politik bukanlah wadah untuk saling menyerang, tetapi persatuan dalam perbedaan adalah keindahan dan kekayaan yang dimiliki oleh manusia. Ide mengenai perikoresis secara khusus menunjuk kepada kesatuan Allah, di mana Allah adalah “Allah yang satu bersama dirinya sendiri”, hakekat Allah adalah persekutuan perikoretik dari tiga pribadi.

Bertolak dari perspektif ini, perikoresis dapat menjawab masalah kesatuan dan perbedaan suku, budaya, agama, bahkan perbedaan pilihan politik pada tanggal 9 Desember mendatang. Bila kita mampu menerima perbedaan secara baik. Itu adalah sebuah kemampuan untuk merangkuh ciptaan tanpa menghilangkan multiplisitas yang ada di Bumi Moloku Kie Raha bahkan di Bumi Hibualamo. Menyambut perbedaan, mari menyambut keniscayaan, mari menyambut kekayaan. Menyambut pesta 9 Desember 2020 nanti, mari menari dalam perbedaan, mungkin bisa saling membentur, namun tetaplah beri sinyum tulus tanpa bulus. Ngone O’Ria Dodoto…!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *