Natal Petani Jagung Tobelo, ditengah Covid-19

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Natal Petani Jagung Tobelo, ditengah Covid-19

Oleh; Melky Molle (Dosen Universitas Halmahera, Tobelo Maluku Utara)

Bisakah jagung panas jadi menu Natal. Natal itu soal kesederhanaan bukan mempertontonkan mewahnya pernak pernik natal, atau mempertontonkan kemewahan, padahal kita sementara dilanda duka nasional atas musibah non alam.

Sudah banyak anjuran para medis bagi masyarakat Indonesia supaya tetap mewaspadai virus corona dengan tetap menjaga jarak, hindari kerumunan, dan tanpa ada sentuhan, seperti bersalaman dikala natal dan tahun baru, yang biasanya harus bersalaman dengan kerabat, tetangga, saudara, teman, dll.

Aktivitas diluar rumah yang paling rasional, dan tertanggungjawab adalah dengan bercocok tanam kata temanku. Apa lagi kita yang hidup didaerah pedesaan, perkampungan, dan perkotaan yang luas wilayahnya masih bisa dimanfaatkan dengan bercocok tanam.

Coba bayangkan kalau semua orang menanam jagung di Tobelo., Baik pegawai, honorer, dan swasta, saya yakin semua orang yang menanam pasti menghasilkan buah jagung yang segar dan sehat. Efeknya imun tubuh pasti naik, dan sudah pasti terhindar dari ketakutan ancaman virus corona.

Menanam pasti mengahasilkan buah. Jangan berharap tanpa menanam akan menhasilkan buah. Menanam itu merawat, memberi makna, dan teladan. Sebab buah simalakama hanya ada pada kepahitan rasa dendam, dan kemalasan yang mereduksi jiwa manusia dan Tuhan. Anjuran paling logis menurut saya adalah menanam jagung sebagai aktivitas melawan covid.

Karena Tobelo juga penghasil jagung manis yang ekspansinya cukup terkenal. Kita memang perlu nasi, yang hanya ke kios, lalu kita peroleh, tapi jangung manis, perlu dilunasi dengan kerja keras, kerja bersih dan keringat jadi ganjarannya.
​Menanam jagung manis, akan memberi buah yang manis, karena itu budaya menanam haruslah dilestarikan sebagai upaya merawat tanah dan petani.

Berbangga menjadi petani, memang sulit rasanya seperti yang diujarkan oleh : (Puan.P) petani itu selalu kalah dimana-mana, tapi apa artinya kalah? Petani itu tidak pernah tersebutkan oleh dewa-dewi, brahmana, kesatria, sebelum, dalam, selama dan sesudah perang, tidak pernah menang, sekalipun ikut berperang, dengan pakaiannya sendiri, alat tajamnya dibuat sendiri, sekalipun bukan perangnya..

Petani itu orang-orang kalah, selalu dilupakan, dimanfaatkan dikala negara jadi tak stabil, dan mereka hanya hidup dari kesuburan tanah, dan sejengkal tanah memiliki nilai hidup bagi mereka.

Jagung manis yang ditanam oleh petani di Tobelo sangat banyak, cukup stok untuk perayaan natal ditengah-tengah duka covid-19. Cukup satu jagung dapat mengenyangkan satu orang, karena besar dan tebal jagung manis tobelo. Ditengah duka covid-19 hidup minimalis diperlukan dan kesederhanaan jadi panggilan kita semua.

Biarlah menjadi panggilan kita semua dalam kondisi duka covid-19 bahwa natal juga dapat diartikan sebagai panggilan kesederhanaan menyambut Yesus sang juruselamat dunia yang merobek tembok pemisah antar awam dan dan agamawan, antara petani dan pengusaha, antar pemimpin dan rakyat dan antara perusahaan dan kariawan. Kerendahan hati adalah perwujudan iman kesederhanaan.

Spritulitas rendah hati dengan hidup sederhana ditengah badai non alam. Kita semua dipanggil untuk menanam dan memberi buah kebaikan, memberi buah adalah memberi keteladanan dengan rendah hati dan hati yang tulus, menerima Yesus Kristus putra Allah satau-satunya ke dalam hati kita dengan lembut penuh kasih. Natal dengan menu jagung manis supaya kita sehat, imun kita stabil. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *