Ketum GMIH sebagai Nara Sumber di kegiatan kementrian Agama Provinsi Maluku Utara

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ternate,Honaipapua.com, -Psikologi Perkembangan Iman dan Teori Intergenerasi Peserta Didik” . Apa yang kita percayai belum tentu kita imani sebagai sebuah pegangan hidup. Karena itu, pengetahuan akan memberi kita arah yang baik jika kita beriman dan berpengetahuan.

Sebab pengetahuan tanpa iman tidak akan menumbuhkan keyakinan yang kuat. Guru itu ikon, simbol atau model kebaikan yang seharusnya disadari sejak dini oleh Nara didik, karena kadang kala Nara didik tidak menyadarinya bahwa dia adalah ikon Nara didik, sehingga dengan demikian, Nara didik menjadi pola anutan yang memberi arah kesadaran, baik pandangannya, motivnya, emosionalnya, yang terimplementasi pada nalarnya sehingga memperkuat spiritualitas Nara didik. Karena itu, Pdt. Dr. Demianus Ice, M.Th mengantar peserta dengan konsep keberimanan yang logis soal dari segi perkembangan anak. diusia 12-14 tahun bahwa Nara didik sudah terbentuk konsep berpikirnya soal sosialnya dan penilaiannya.

Usia 18 tahun ke atas, kepercayaan atau imannya sudah menjadi pandangan hidup, karena itu iman mereka sudah pada ranah reflektif. Kekurangan diusia ini adalah mereka selalu mengandalkan akal budi, sikap individualisme, dan masih tertutup. Sementara tahap dewasa: Usia 30 ke atas, adalah sudah pada pemikiran universal, nilai-nilai menjadi basis perjuangannya. Guru sebagai ikon atau model haruslah menyadari sejak dini dengan siapa ia berhadapan dengan ciri-ciri manusianya dan perkembangan sikologinya.

Pdt. Dr.Demianus Ice menambahkan pada sesi tanya jawab, bahwa guru pendidikan agama Kristen janganlah menjadikan teks-teks Alkitab yang ekslusivisme dijadikan basis pemikirannya sebagai internalisasi nilai sehingga pola asuh semacam itu akan melahirkan manusia yang fanatis dan menganggap yang lain sebagai musuhnya atau yang lain sebagai saingan karena perbedaan dogmatis agamis yang tidak sehat.

Penting untuk teks-teks kitab suci yang ekslusivis didesain menjadi pola asuh untuk konsumsi internal agamanya supaya memperkuat dogma sebagai nilai untuk memperdalam pengetahuan agamanya, tetapi bukan untuk dijadikan basis pengetahuan untuk hidup bersama ditengah masyarakat yang pluralis berdasarkan konteks dan ini penting. Berikut juga sangat penting bagi kita supaya memperkuat untuk pengetahuan agama Kristen yang ingklusivis supaya Nara didik dapat hidup ditengah masyarakat plural sebagai kenyataan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Kita hidup ditengah-tengah masyarakat pluralis maka ajaran dan konsep pembelajaran haruslah sadar konteks, sehingga merawat generasi kita kedepan yang tegas menghargai perbedaan, sehingga konsep, pemikiran dan ideologinya sehat dan lestari antara manusia, alam, dan Tuhannya.
Kegiatan ini berlangsung dari hari Rabu, tanggal 22-24 Sep. 2021 di Hotel Molokai, di Morotai. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *