“Jika Cinta DIA” Oleh: Steven Sambaki (Pendeta GMIH Maluku Utara)

Opini
Bagikan berita ini

“Jika Cinta DIA”
Oleh:
Steven Sambaki (Pendeta GMIH Maluku Utara)

Homo Ludens dan Deus Ludens! Manusia adalah makhluk yang bermain (homo ludens). Johan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens (1944), memberi sebuah pernyataan yang sangat menarik, “Bermain lebih tua dari kebudayaan, sebab kebudayaan, seberapa pun memadainya ia untuk didefinisikan, selalu mengandaikan manusia, dan binatang-binatang tidak menanti manusia untuk mengajari mereka bermain.” Sangat menarik. Bagi Huizinga, binatang-binatang menampilkan kegiatan bermain yang naluriah. Saya punya seekor anjing bernama Blacky dan tetangga saya juga memiliki seekor anjing yang diberi nama Tayo. Saya sering melihat bagaimana anak-anak anjing itu (Blacky dan Tayo) saling bercengkerama dalam permainan mereka, atau anda tentu pernah mendengar burung-burung saling bersiul saling menyahut. Dengan bermain, manusia pun memasuki kodratnya sebagai makhluk yang naluriah dan alamiah.

Hakikat manusia yang bermain (homo ludens) menampilkan dimensi kegembiraan yang bersama dengan hakikat manusia yang bekerja membuat hidup manusia lebih manusiawi. Jika kita terjebak ke dalam kesibukan bekerja, kebutuhan hidup kita mungkin akan terpenuhi. Namun, kehidupan semacam itu akan menjadi kering tanpa sukacita. Ia akan hidup tetapi terengah-engah bagaikan tanaman yang kering di gurun yang gersang. Ia kehilangan kegembiraan.
<span;>Kegembiraan bermain ternyata bukan hanya manusiawi. Ia juga berwajah Ilahi. Allah bukan hanya Allah yang bekerja (Deus faber), tetapi juga Allah yang bermain (Deus ludens). Amsal 8: 30 bertutur tentang Sang Hikmat, “Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya.” Terjemahan Vulgata[1] dari teks ini memakai kata ludens yang diterjemahkan dengan kata rejoicing – kegembiraan di dalam terjemahan bahasa Inggris. Allah kita adalah Allah yang bermain dan dalam permainan-Nya, Ia mencurahkan kegembiraan dengan penuh cinta kepada seluruh ciptaan-Nya.

Letting-go atau letting-come? Sebelum menjawab, anda mungkin pernah mendengar istilah “jebakan monyet.” Saya pernah menyaksikan sebuah tayangan di youtube yang memperlihatkan cara penduduk suatu desa menangkap monyet-monyet yang bergerak lincah. Mereka membuat sebuah lubang pada sebuah pohon yang sudah tumbang. Lubang itu cukup bagi seekor monyet untuk memasukan tangan kosongnya. Di dalam lubang itu diletakan makanan yang akan memikat monyet-monyet itu. Monyet yang tertarik kepada makanan gratis itu akan mendekati lubang itu, memasukan tangannya, dan menggenggam erat makanan gratis itu. Akan tetapi, tangan yang telah penuh itu terlalu besar untuk ditarik keluar. Monyet itu tiba-tiba berada pada situasi genting antara naluri memperoleh makanan dan naluri untuk menyelamatkan diri dari penangkapan. Ternyata, hampir selalu monyet-monyet itu memilih yang pertama. Pada saat itu, penduduk desa dengan mudah menangkap monyet itu.

Monyet itu berada pada pilihan antara melepaskan (letting-go) atau mendapatkan (letting-come), pilihan itu menentukan nasip monyet, bahkan ketika manusia berada pada situasi itu, pilihan itu menentukan nasip kita. Hanya dengan letting-go, monyet itu dapat menyelamatkan dirinya. Mungkin dengan melepaskan (letting-go) makanan gratis itu monyet akan mendapatkan (letting-come) makanan lain yang tidak membahayakan dirinya. Kita pun demikian. Tak jarang, kita gagal menerima sesuatu yang indah hanya karena ketidakrelaan kita untuk melepaskan apa yang telah berada di dalam genggaman kita.

Akan tetapi, mari kita masuk lebih dalam lagi. Letting-go juga tidak akan merubah menjadi letting-come jika kita tidak memegang apa yang kita mau lepaskan dengan ringan. Itulah yang disebut momen holding lightly. Neale Donald Walsh berkata, “Engkau tak dapat membiarkan pergi sesuatu jika engkau tidak menyadari bahwa engkau tengah memegangnya.” Sesuatu yang kita miliki memang perlu kita genggam, namun genggamlah dengan ringan, seolah-olah kita tahu bahwa suatu saat ia harus kita lepaskan dengan penuh kerelaan. Mencengkeramnya erat-erat akan mempersulit kita untuk membiarkannya pergi. Dan bayangkan jika “sesuatu” itu ternyata adalah “seseorang;” seorang pribadi lain. Entah berapa banyak persahabatan yang rusak hanya karena seseorang mencengkeram atau menggenggam terlalu erat sahabatnya. Seandainya ia tetap menggenggam, tetapi dengan ringan, bahkan dengan resiko terlepas, maka persahabatan justru memiliki kemungkinan besar untuk bertahan.

Kembali ke permainan. Kita diingatkan oleh Profesor Driyarkara yang berbicara mengenai permainan di dalam bukunya, Filsafat Manusia.

“Bermain dalam permainan tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan akan menjadi permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia.”

Sebagai homo ludens, kita membutuhkan sebuah perspektif permainan untuk memaknai kehidupan. Sebuah perspektif sukacita! Kegembiraan bermain itu ternyata dipengaruhi oleh kemampuan kita untuk bermain dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak mempersungguh permainan. Bermain tanpa mempermainkan permainan. Bayangkan betapa kakunya seseorang yang bermain bulutangkis jika menggenggam terlalu erat raket ditangannya. Tak akan muncul gerakan yang luwes dan lincah. Ia akan bermain seperti sebuah robot.

Demikian juga kehidupan penuh kegembiraan. Rayakanlah kehidupan dengan mensyukuri apa saja yang tersedia di dalam kehidupan kita, sebab hanya dengan cara itulah kita siap untuk membiarkan pergi apa pun yang memang akan hilang (letting-go) dan membeiarka datang cinta ilahi yang mengejutkan kita dengan kehadirannya (letting-come). Merayakan kehidupan dengan penuh syukur inilah yang disebut “menggenggam ringan” (holding lightly).

Pada akhir tahun 2016, ketika saya baru saja menyelesaikan studi S1 di Fakultas Teologi Universitas Halmahera, seorang teman Pendeta membantu mengurus beasiswa untuk melanjutkan studi ke Universitas Pelita Harapan (UPH). Persyaratan administrasi telah saya lengkapi dan semua berkas telah diterima, tes akan dilaksanakan pada bulan Juni 2017. Pada tahun yang sama, saya memasukan berkas untuk mengikuti tes Vikaris di Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Keduanya berjalan bersamaan. Pada bulan Juli 2017, saya diterima di UPH sekaligus diterima sebagai Vikaris di GMIH. Saya merasa sesal, kenapa kedua hal itu datang pada saat yang sama. Dalam kebingungan itu ayah saya berkata, “lupakan UPH dan silahkan melayani sebagai Vikaris. Yang terbaik akan muncul kelak.” Dan saya pun melupakan impian ke UPH lalu memasuki proses gerejawi untuk menjadi pendeta dengan penuh kerelaan dan kegembiraan. Dan ucapan ayah saya itu terbukti dikemudian hari.

Seandainya Abram menggenggam terlalu erat kenyamanan hidupnya di Haran, maka ia tak akan menikmati berkat Allah yang melimpah beberap dekade sesudahnya (Kej. 12). Seandainya para murid tidak melepaskan kehidupan mereka sebelumnya, mereka tak akan menjadi orang-orang penting dalam pembentukan gereja Kristus. Semua yang lebih baik, bahkan yang terbaik, hanya akan kita terima ketika kita menggenggam ringan apa yang kita miliki sekarang, bahkan rela melepaskannnya jika perlu, untuk melihat yang belum terlihat itu kelak. Itulah seni permainan yang makin langkah dihidupi manusia modern ini. Dan seni semacam itulah yang tampak menjadi pekerjaan rumah kita sekarang. Juga mulai sekarang, jangan genggam terlalu erat kekasihmu, agar ia tak merasa kesakitan dan malah meninggalkanmu.

Dalam kisah penampakkan Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh. 20: 11-18). Ketika Maria sadar bahwa yang menyapanya adalah Yesus ia seolah-olah mau memegang bahkan memeluk erat tubuh Yesus. Merespon sikap Maria, Yesus berkata, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku…..” Kata-kata Yesus itu menandaskan bahwa rasa cinta kepada Yesus jangan digenggam erat untuk diri sendiri. Akan tetapi berikan rasa cinta itu kepada orang lain, kepada saudara-saudara kita. Jadi, jika anda mencintai seseorang jangan menggenggam terlalu erat, genggamlah dengan ringan, dengan segala kemungkinan. “Jika Cinta DIA” jangan genggam untuk kepentingan diri sendiri, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu (17b).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.