IJTI Kecam Keras Pelaku Pemukulan Oknum Wartawan di Manokwari

Opini
Bagikan berita ini
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares

Sorong, Honaipapua.com,- Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah (Pengda) Papua Barat, mengecam keras, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompk warga terhadap seorang jurnalis Radar Papua,  Novri  Terok, saat melakukan peliputan kebakaran di komplkes sanggeng Manokwari. Selasa (5/6/2018) siang tadi. Akibat kejadian ini, Novri mengalami sejumlah luka pada bagian wajah dan kepala.

Ketua IJTI Pengda Papua Barat, Chanry Andrew Suripatty, menyesalkan dan mengecam keras  aksi kekerasan terhadap pekerja pers yang dilakukan oleh sekelompok warga di kota Manokwari, dimana tindakan tersebut  merupakan tindakan yang sangat keji dan di luar batas kemanusian, apalagi saat itu, jurnalis tersebut sedang melakukan pekerjaan jurnalistiknya.

“Ini tindakan yangsangat keji, dan saya sangat mengecam peristiwa yang dilakukan oleh sejumlahoknum warga di Manokwari, dan ini harus dip roses hokum, apapaun alasannya tindakan kekerasan terhadap pekerja pers yang sedang melakukan kerja jurnlaistik tidak dibenarkan,” kataAndrew panggilan akrab Chanry Andrew Suripatty, Selasa (5/6/2018).

Ketua IJTI Pengda Papua Barat, Chanry Andrew Suripatty,  mengungkapkan, IJTI Papua Barat, dalam kasus ini, akan membuat laporan lengkap setelah mengumpulkan seluruh onformasi dari jurnalis yang menjadi korban tersebut. Dan melaprokan kepada  Satgas Anti Kekerasan Dewan Pers untuk mendapatkan advokasi dan penyelidikan atas tindakan yang dilakukan sejumlah oknum warga saat kebakaran di salah satu SPBU di Manokwari. .

“Kami menilai ada dua peristiwa hukum yang terjadi. Pemukulan adalah delik umum yang legal standing-nya berada pada korban langsung bukan pada perusahaan,” Chanry Andrew Suripatty  dalam siaran persnya kepada Media ini, Selasa (5/6/2018).

Kedua, terkait penghalangan kerja sebagaimana diancam Pasal 18 ayat 1 UU Pers, hal ini mengacu pada Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 yang legal standing-nya ada pada perusahaan pers. IJTI mengimbau semua pihak agar menghormati profesi jurnalis yang dilindungi undang-undang.

Terkait aksi kekerasan tersebut, IJTI menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut :

1. Menghalang-halangi serta melakukan tindak kekerasan terhadap para jurnalis yang tengah menjalankan tugasnya merupakan pelanggaran undang-undang dan pelaku bisa dikenakan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

2. Meminta aparat kepolisian Polda Papua Barat dan Polres Manokwari serius dan bersikap tegas menindak siapapun baik masyarakat sipil maupun non-sipil yang telah mengancam dan melakukan tindak kekerasan kepada para jurnalis.

3. Meminta aparat menjamin dan melindungi para jurnalis yang tengah menjalankan tugasnya.

4. Meminta kepada semua pihak jika merasa dirugikan atas pemberitaan agar memproses melalui mekanisme yang berlaku, seperti menggunakan hak jawab, meminta koreksi, hingga mengadukan ke Dewan Pers.

5. Jurnalis dan media wajib menjaga independensinya, menjalankan tugasnya secara profesional dan sesuai Kode Etik Jurnalistik.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang Wartawan dari Radar Papua, Bernama Novri Terok, babak belur dihajar massa saat meliput kebakaran salah satu kendaraan roda dua di kompleks SPBU Sanggeng. Wartawan yang menjadi korban main hakim sendiri oleh sekelompok massa saat dikonfirmasi. Selasa (5/6) mengatakan, peristiwa pemukulan terhadap dirinya terjadi ketika, sedang mengambil gambar, saat motor yang terbakar di SPBU Sanggeng sedang diseret keluar dari area SPBU, namun tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang datang langsung menghantamkan pukulannya kepada dirinya

“Saat itu saya dari arah lampu merah Bank Mandiri, saya liat diarah SPBU Sanggeng, ada kepulan asap yang cukup tebal naik keatas, dan orang-orang maupun kendaraan mulai terlihat berbalik arah, sebagai seorang jurnalis, saya tergerak untuk melihat apa yang terjadi di TKP, dan setelah dekat, motor yang saya gunakan, saya titipkan di dekat toko royal bangunan. Saat tiba di SPBU Sanggeng, saya liat orang-orang mulai menyeret motor keluar dari areal SPBU hingga berada di jalan. Saat berada dijalan, saya ambil gambar, namun tiba-tiba dari belakang ada yang pukul, saya mundur, namun orang mulai kejar saya, hingga tak terhitung berapa orang yang memukul saya,” jelas Novri

Dengan kondisi yang sudah terdesak, wartawan tersebut berhasil meloloskan diri, setelah naik sebuah motor menuju Pos Polisi yang ada di dekat pasar Sanggeng.

“Tiba di Pos Polisi, saya disarankan untuk ke Polsek Kota, dan disana saya buat laporan Polisi,” katanya.

Akibat pemukulan yang dilakukan oleh sekelompok massa, Wajahnya bengkak dan sempat mengeluarkan darah akibat terkena pukulan, bahkan mulutnya sampai mengeluarkan darah. (del)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *