Dialog antar agama adalah jalan Yesus

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dialog antar agama adalah jalan Yesus

Oleh; Melky Molle (Dosen Universitas Halmahera Maluku Utara)

Gereja seharusnya memahami bahwa ia bertumbuh dan berkembang serta berafiliasi dengan kehidupan keberagaman dalam konteks ke-Indonesia-an. Dinamika yang yang ada dan bergerak turun naik, seperti gerak amplitudo.

Melky Molle (Dosen Universitas Halmahera Maluku Utara)

Realita menggambarkan bahwa benturan dogmatis adalah yang utama yang sering diperdebatkan pada aras grass root (akar rumput). Apa sebenarnya yang terjadi pada problem keagamaan dalam konteks ke-Indonesia-an, menyebabkan mata rantai harmonisasi tercabik-cabik, karena paham eksklusifisme, traumphalisme, yang tertutup dan yang menganggap lebih benar dari yang lain.

Fakta sosial yang semakin memprihatinkan bahwa “Yang lain menganggap musuh bagi yang lain”. Seakan-akan paham homo homoni lupus telah menjadi doktrin bagi orang-orang yang katanya beragama. Bukankah agama berperan penting dalam proses internalisasi nilai membentuk moral manusia?

Gereja tidak boleh pesimis menghadapi problem kebangsaan itu. Karena problem kebangsaan yang kita hadapi sekarang ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kita belajar pada kesaksian dan pemberitaan Yesus di tengah-tengah dunia Palestina pada zamannya.

Yesus menempatkan pelayanannya dengan corak homo homini salus (sumber berkat). Ketegasan hukum kasih menjadi basis perbuatan manuaia Yesus, menentang kesewenangan kekuasaan agama dan negara atas nama kemanusiaan ( apa yang kau kehendaki supaya orang lain tidak berbuat jahat kepadamu, perbuatlah demikian kepada orang lain).

Yesus menegaskan kepada pengikutnya, bahwa kedamaian dapat tergapai jika kejahatan atau perbuatan yang menyakiti orang lain tidak diperkenankan dilakukan terhadap manusia kepada manusia, atau yang lain (the other) karena pada dasarnya manusia adalah makhluk mahal dan mulia di hadapan Tuhan dan Negara.

Kekejaman manusia saat ini yang terkuak lewat media masa dan berita-berita online seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Sigi di Sulawesi Tengah atas pembunuhan tanpa belas kasihan sedikutpun, sangat menyayat hati karena sudah melebihi kekejaman dunia reptyl (binatang). Pembunuhan atas nama agama, atas nama golongan, atas nama ideologi tertentu, adalah perbuatan yang sangat bertentangan dengan tujuan hidup manusia dan tujuan dari agama manapun.

Kasus di Sigi mengancamn disharmonisasi umat atau masyarakat, karena negara dan gereja kadang lalai dalam tugasnya bahkan sering menggunakan umat atau masyarakat sebagai kekuatan politiknya, untuk tujuan keuntungan sesaat kalangan elit. Keprihatinan ini seharusnya bukan menjadi mimpi utopis semata tetapi seharusnya, menjadi pijakan kita bersama tidak terkecuali sebagai umat atau anak negeri dari bangsa ini.

Dari kasus di Sigi kita belajar bahwa teologi gereja seharusnya menjadi sorotan liturgi sosial (bukan dari dalam sistem) tapi dari luar sistem itu sendiri. Medan pengabdian sosial atau medan layan menjadi liturgi yang menghidupkan dan merangkul keharmonisan antara umata beragama bukan sebaliknya mematikan dan atau menyeret kesadaran umat atau bangsa yang dilahirkan oleh hasrat elit kekuasaan. Damai dapat diwujudakn pada konflik-konflik komunitas masyarakat jika ada intervensi negara, sesungguhnya kedamaian seperti ini, adalah kedamaian sementara dan tidak bertahan lama ibarat perang kita berada pada genjatan senjata.

Model bergereja kita, perannya harus menjadi diskursus para intelek gereja terlebih khusus kaum muda dengan kebutuhan spritualitasnya yang berbeda dengan kaum tua. Bahwa cara berteologi kita seharusnya di transformasi kembali dalam kondisi dan dalam konteks kemajemukan Indonesia. Bahwa teologi mengklaim Tuhan hanya ada pada pihak kita dan tidak ada pada pihak agama lain adalah teologi yang tidak subur dan kering atau teologi padang pasir. Teologi yang mengklaim kebenaran dalam konteks keindonesiaan adalah teologi dogmatis tanpa sentuhan spiritualitas sosial yang gemuk dan subur. Jika hal ini dapat dibaharui kembali tanpa juga mengklaim kebenaran hanya ada pada senioritas agamawan, maka keyakinan mendasar kekristena yang bersumber dari ajaran manusia Yesus sedikit demi sedikit membawa kedamaian yang tulus dari rahim Indonesia yang pluralitas.

Karena itu Yesus konsisten pada nilai kemanusiaan karena itulah misi kemanusiaan Yesus yang lahir dari dan untuk mengangkat yang tertindas dan yang terpinggirkan dimanapun, yang tidak memandang perbedaan agama, suku, ras, ideologi, golongan, dan status sosialnya.

Di tengah kondisi masyarakat yang sedang dikuasai oleh kelompok-kelompok fundamentalis, Gereja seharusnya merefleksikan kebaikan Allah di tengah-tengah masyarakat majemuk Indonesia dengan semua persoalannya. Pergumulan ini harus diwujudkan dalam kehidupan sosial untuk mempersaksikan wajah Yesus, dalam tindakan membangun dialog antar sesama manusia dalam kepelbagaian.

Refleksi kebaikan Tuhan kepada semua orang, yang akan menghindarkan kita dari kecendurungan mengedapankan klaim-klaim kebenaran. Sehingga nantinya akan mendorong kita untuk lebih solider dalam kehidupan kebersamaan sebagai sesama manusia. Dengan demikian, maka kedamaian, keselarasan, dan keutuhan ciptaan dapat dijaga dan dipelihara sebagaimana amanat kitab suci yang ada dari semua agama di dunia ini. Inilah inti dialoag antar umat, yang adalah proyek kita bersama, untuk menyambut kehidupan yang lebih manusiawi dan lebih bermartabat di hadapan negara dan di hadapan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *