Dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Mengubah Konflik Sapi Menjadi Potensi Pemberdayaan Kekuatan Ekonomi Masyarakat Masni, Manokwari

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagai salah satu daerah transmigrasi, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari
dihuni oleh masyarakat yang heterogen. Masyarakat asli Papua hidup berdampingan dengan masyarakat transmigran asal daerah lain, yang tentunya melahirkan beragam kompleksitas permasalahan sosial, budaya dan ekonomi. Namun, di balik
permasalahan tersebut juga terdapat potensi ekonomi besar yang belum tergarap dengan baik. Sektor pertanian, perkebunan dan peternakan berkontribusi cukup besar bagi perekonomian masyarakat di Distrik Masni. Salah satu contohnya adalah di Kampung Muara Prafi. Masyarakat Kampung Muara Prafi terdiri dari 240 Kepala Keluarga dengan komposisi demografi 40% Suku asal Nusa Tenggara Timur, 40% Suku Jawa, 10% suku Meag ( Papua), dan 10% Campuran. Mayoritas pekerjaan mereka adalah petani dan peternak, dan sedikit warga yang bekerja sebagai aparat sipil negara (ASN).
Berdasarkan data Dinas Pertanian/Peternakan Kabupaten Manokwari jumlah ternak sapi di Kabupaten Manokwari lebih dari 25 ribu ekor, dan sekitar 4000 ekor berada
di Distrik Masni tempat sertu Supriyanto bertugas. Data tersebut menunjukkan
pertumbuhan populasi usaha pemeliharaan ternak sapi sangat prospek untuk meningkatkan ekonomi di Distrik Masni,Kabupaten Manokwari. Dalam konteks inilah Babinsa Koramil 1801/07 yang dimotori oleh Sertu Supriyanto berupaya melakukan
pendampingan, termasuk melakukan identifikasi dan solusi atas masalah yang dihadapi oleh para peternak sapi, termasuk didalamnya terkait dengan adanya gesekan sosial antara peternak dengan para petani sawah dan pemilik perkebunan.
Kampung Muara Prafi dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sapi di
Kabupaten Manokwari. Namun sayangnya, pola peternakan sapi oleh masyarakat setempat masih dikelola secara tradisional, yaitu dengan melepasliarkan sapi-sapi milik mereka.
Kondisi tersebut selain tidak menghasilkan produktifitas ternak yang baik, juga menimbulkan konflik sosial di antara masyarakat yang hidup berdampingan di desa tersebut. Rata-rata, satu kepala keluarga di desa tersebut memiliki 8-12 ekor sapi,
dan ternak mereka tersebut dilepasliarkan begitu saja. Dampaknya tentu dapat dibayangkan, ternak tersebut akhirnya masuk ke lahan pertanian dan perkebunan milik warga lainnya. Kerusakan lahan pertanian dan perkebunan ini menimbulkan
friksi sosial antar warga, yang bila dibiarkan berpotensi menjadi konflik sosial yang lebih besar.
Secara umum, penyebab warga melepasliarkan ternak mereka adalah karena mereka tidak terbiasa mencari rumput, menggampangkan permasalahan, kurangnya kesadaran bahwa tetangga juga ingin mendapat penghasilan dari hasil bertani atau
berkebun, kurangnya lahan pengangonan, dan kurangnya lahan untuk menanam rumput.
Selain menimbulkan dampak kerugian ekonomis bagi pemilik lahan kebun, pemilik ternak juga pada dasarnya mengalami kerugian yang sama. Akibat friksi sosial yang berlarut, masyarakat setempat menyepakati peraturan tidak tertulis untuk mengatasi masalah kerugian. Apabila pemilik kebun menangkap sapi yang merusak
lahannya, maka dia dapat menjual sapi tersebut dan hasilnya dibagi dua oleh pemilik sapi.
Di sisi lain, warga pemilik sapi juga kesulitan untuk menjual sapinya, karena untuk menangkap sapi miliknya,
membutuhkan waktu sampai 2 minggu karena keberadaannya entah di mana. Sehingga, aset ternak yang mereka miliki bukan merupakan aset yang mudah untuk dijual, belum lagi mereka juga harus menanggung ongkos menangkap sapi miliknya sebesar Rp. 500.000/ekor
Gesekan kepentingan antar warga masyarakat tersebut merupakan pekerjaan sehari-hari yang dihadapi pihak Koramil setempat, dalam hal ini Babinsa yang ditugaskan di wilayah tersebut untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Selain aspek teknis tentang upaya peningkatan dan pengembangan peternakan, serta strategi pembudidayaan dan pemasaran, tugas Babinsa yang dimotori oleh
Sertu Supriyanto adalah menjaga dan menjamin agar potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat ini tidak tergerus oleh masalah keamanan sebagai implikasi logis karena adanya pergesekan sosial ditengah masyarakat. Tugas Sertu Supriyanto dan satuan lainnya adalah mengeliminir besarnya potensi konflik yang dapat bereskalasi menjadi pertikaian sosial yang lebih massif, yang disebabkan karena ketiadaan lahan bagi para peternak, sehingga sapi-sapi mereka digembalakan secara liar, bahkan dengan radius wilayah yang sagat jauh yang akhirnya merusak ekosistem pertanian dan perkebunan warga lainnya.
1. Fakta Empiris Problem Peternakan Sapi di Distrik Masni, Manokwari
Selain aspek teknis tentang upaya peningkatan dan pengembangan peternakan, serta strategi pembudidayaan dan pemasaran, tugas Babinsa yang dimotori oleh Sertu Supriyanto adalah menjaga dan menjamin agar potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat ini tidak tergerus oleh masalah keamanan sebagai implikasi logis karena adanya pergesekan sosial ditengah masyarakat. adalah melakukan upaya untuk
mengeliminir besarnya potensi konflik yang dapat bereskalasi menjadi pertikaian sosial yang lebih massif, yang disebabkan karena ketiadaan lahan bagi para peternak, sehingga sapi-sapi mereka digembalakan secara liar, bahkan dengan radius wilayah yang sagat jauh yang akhirnya merusak ekosistem pertanian dan perkebunan warga lainnya. Secara substantif, problem mendasar masalah peternakan di Distrik Masni, khususnya di Kampung Muara Prafi dapat diidentifikasi sebagai berikut :
a. Timbulnya konflik sosial antara pemilik sapi dan pemilik kebun terjadi karena para peternak tidak memiliki dan menyiapkankandang dan pakan ternak.
b. Pemilik sapi dan pemilik kebun mengalami kerugian dikarenakan ada hukum adat (aturan tidak tertulis) yang disepakati. Yakni apabila pemilik kebun atau pertanian menangkap sapi tersebut, maka sapi-sapi itu dapat dijual dan
hasilnya dibagi dua dengan petani atau pemilik kebun, sedangkan hasil
pembagian tidak memberikan kompensasi yang memadai untuk
menggantikan kerusakan kebun yang dimiliki oleh pemilik kebun Selain itu,
warga pemilik sapi juga kesulitan menjual menjual sapinya karena luasnya
wilayah atau area menangkap sapi, sehingga dibutuhkan waktu sampai lebih
dari dua minggu untuk mendapatkan sapinya kembali. Jika menggunakan
tenaga orang lain untuk menangkap sapi, maka akan dikenakan biaya ongkos
3 sapi yang berkisar kurang lebih sebesar Rp. 500.000/ekor. Persoalan lain
adalah Para peternak dihadapkan oleh rentenir – ijon yang menyebabkan
harga sapi per ekornya menjadi dibawah harga pasar..
c. Menurunnya nilai ekonomis pemilik kebun dikarenakan rusaknya perkebunan oleh sapi yang diliarkan, dikarenakan hasil pembagian hasil dari pemilik sapi yang telah merusak kebun tidak memberikan kompensasi yang memadai untuk menggantikan kerusakan kebun Para peternak dihadapkan oleh rentenir – ijon yang menyebabkan harga sapi per ekornya menjadi dibawah harga pasar..
d. Selain tiga problem utama tersebut diatas, problem lain terkait dengan kondisi obyektif Masalah peternakan sapi di Distrik Masni, Manokwari Papua Barat adalah mayoritas cara berternak yang masih tradisional, yakni diliarkan di areal perkebunan kelapa sawit. Akibat dari hal tersebut menimbulkan
perkawinan sedarah sehingga ternak tersebut makin lama postur tubuhnya
semakin kecil.
e. Para peternak dihadapkan oleh rentenir – ijon yang menyebabkan harga sapi per ekornya menjadi dibawah harga pasar..Penanganan dan Penyelesaian Permasalahan Sersan Satu (Sertu) Supriyanto, adalah Babinsa yang bertugas di kampung Muara
Prafi dan Kampung Meiforga. Riwayat pengalamanya sebagai bintara pembina desa telah cukup panjang. Sejak tahun 2014, dia telah mengemban tugas membina masyarakat di berbagai wilayah penugasan, seperti di Koramil 04 Distrik Sinak/Kodim1714/Puncak Jaya, Koramil 09 / Distrik Anggi Kodim 1801/BS Manokwari dan saat ini di Koramil 07/ Distrik Masni Kodim 1801/BS Manokwari.
Dengan berbekal pengalamannya yang cukup panjang dalam membina masyarakat, Sertu Supriyanto berhasil mengelaborasi permasalahan gesekan sosial yang terjadi di Kampung Muara Prafi dan menyusun langkah penangangan permasalahannya.
Dia menggulirkan program sosialisasi bagi pemilik ternak dengan tema pokok “Pola Ternak Beretika”. Selain dapat menyelesaikan konflik sosial, program ini juga diharapkan akan dapat meningkatkan produktifitas peternakan warga masyarakat.
Sertu Supriyanto mengajak masyarakat agar tidak lagi melepasliarkan ternaknya
dengan cara mengandangkan ternak dengan memberi batas pagar pada lahan
yang disiapkan, serta menyiapkan pakan segar yang ditambah dengan asupan
formula tambahan berupa pakan hasil fermentasi.
4 Agar sosialiasi program tersebut berjalan maksimal, dia juga berkoordinasi secara intensif dengan pemimpin pemerintahan kampung setempat dan tokoh-tokoh
masyarakat. Akhirnya, berkat kegigihannya, program pembinaan warga peternak sapi tersebut masuk dalam pembahasan Musyawarah Rencana Pembangunan Kampung, dan disepakati oleh seluruh stakeholder masuk ke dalam anggaran program kesejahteraan yang bersumber dari anggaran dana desa.
Dengan telah tercapainya dukungan dana pemberdayaan masyarakat dari
pemerintahan kampung, Sertu Supriyanto kemudian membentuk kelompok ternak Sapi yang di beri Nama Moskur Markus (Tongkat Markus). Penamaan ini bertujuan untuk tetap menghargai perintis Kampung atau keluarga kepala suku. Dalam
konteks ini, keputusan yang diambil tetap menghargai pranata masyarakat kampung suku asli Papua, sebagai bentuk kearifan lokal. Setelah kelompok ternak terbentuk, musyawarah kemudian berlanjut pada rencana kegiatan pembuatan kandang komunal. Disepakati juga pola pengerjaannya
menggunakan asas gotong royong untuk menghemat biaya dan menambah target
penyiapan kandang, sehingga program ini dapat berdayaguna maksimal bagi
masyarakat.
Sentuhan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Pemberdayaan Masyarakat
Dengan terbentuknya kelompok ternak sapi Moskur Markus, pola peternakan warga juga telah mendapat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga proses pengge,ukan sapi dapat lebih terukur dan terencana hasil produksinya. Untuk mendorong peningkatan produksi penggemukan sapi, Sertu Supriyanto juga menggalakan penggunaan formula asupan tambahan yang diberi nama ROTER
(ramuan organik ternak). Bahan baku formula ini sangat mudah didapat oleh
masyarakat. Proses pengolahan formulanya pun cukup mudah, seluruh bahan tersebut cukup diblender dan selanjutnya difermentasi dalam wadah khusus berupa jerigen. Setelah melalui proses fermentasi selama 4-7 hari, formula ROTER telah jadi dan dapat
diberikan langsung kepada ternak sapi dengan cara dicampurkan dalam pakan
segar yang telah disiapkan.
Dengan asupan tambahan ini secara ekonomis dapat meningkatkan nilai tambah hasil produksi ternak, mengingat dalam waktu 6 bulan berat badan sapi meningkat cukup pesat, berbeda dengan saat dilepasliarkan.
Proyeksi Target Berkesinambungan
Agar hasil pembinaan masyarakat dapat tercapai secara maksimal Kodim 1801/BS Manokwari beserta jajarannya terus mengupayakan agar program pembangunan kandang dan penyediaan lahan pakan dapat terus dikembangan. Upaya ini ditempuh melalui komunikasi dan sosialiasi intensif dengan pemangku wilayah setempat, yaitu pemerintah daerah dan unsur-unsur terkait lainnya..
Kedepannya akan di komunikasikan kepada Pemerintah Daerah agar dapat
mendukung memberikan bantuan sapi sapi unggulan agar regenerasi sapi di wilayah Masni kedepannya akan memiliki sapi ungulan.
Dengan melihat fakta empiris timbulnya mutual intension dan relasi sosial serta
dukungan masyarakat terhadap peran TNI, kegiatan pembinaan teritorial TNI yang dilakukan oleh para Babinsa, terbukti mampu mewujudkan bakti kemanunggalan TNI dengan Rakyat. Selain itu, juga berhasil menciptakan suasana yang memungkinkan
berkembangnya potensi lokal yang dimiliki masyarakat dengan pendekatan nilai budaya masyarakat setempat.
Peran Babinsa dan unsur satuan lain, sebagai ujung tombak keberhasilan
pembinaan teritorial di Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat ini patut diapresiasi karena melalui sikap dan perilaku serta keteladanan mereka, terbukti dapat menciptakan suasana yang membangkitkan motivasi dan etos kerja masyarakat dalam mendukung seluruh program yang dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *