Catatan Refleksi Jelang Paskah Kristus : GMIH dan Paskah

Opini
Bagikan berita ini

Selayang Pandang : Makna Paskah

Oleh : Sefnat Tagaku, Mahasiswa Teologi, Universitas Halmahera

Momentum sakral tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan (Paskah), akan kembali di rayakan dalam tahun ini (2022). Perjalanan yang di tempuh oleh Yesus Kristus, merupakan sebuah wujud Kasih Allah kepada dunia, melalui jalan menderita, mati dan bangkit. Ketiga peristiwa yang di jalani oleh Yesus tidak bisa di lepas pisahkan, sebab hal inilah yang menjadi dasar dari iman Kristen.  Menderita, mati dan bangkit, merupakan misi Allah yang harus di penuhi oleh Yesus, untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Sebabnya, momentum ini selalu saja di identikan dengan ‘Kasih’.

Di tahun 2022 ini, melalui Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) telah mengeluarkan tema secara nasional dalam momentum perayaan Paskah Kristus, yakni; “Tak Terpisahkan Dari Kasih Allah” (bdk. : Roma 8:38-39). Sebagai gereja yang merupakan wujud dari misi Kristus (kepala gereja), PGI berupaya untuk meletakan dasar refleksi umat Kristen, untuk menyelami Kasih yang di anggap sempurna itu (Kasih Allah). Kasih itu, terlihat pada realitas kehidupan manusia yang selalu mendapatkan penuntunan, penyertaan, pertolongan, serta pemeliharaan hidup.

Jika demikian, maka gereja sebagai misi Kristus harus menjadi teladan bagi kehidupan sosial masyarakat yang plural, dengan menebarkan Kasih Allah pada kehidupan itu. Plural yang di maksudkan, tidak hanya pada kehidupan internal gereja, melainkan secara keseluruhan sosialnya. Gereja harus mampu menyentuh berbagai sendi-sendi kehidupan, melalui Kasih yang telah di lakukan Allah pada manusia. Kasih tidak sekedar di gambarkan pada tentang saling bersedekah (berbagi kekayaan/kekurangan), tetapi juga pada soal sikap dan tindakan keseharian manusia, termaksud saling mengampuni.

Mengapa sebab? Karna penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, merupakan wujud pengampunan yang di berikan Allah kepada manusia. Manusia berhak menerima pengampunan itu, tetapi wajib hukumnya untuk berbuat kepada sesama, yakni; dengan saling memberi pengampunan. Artinya, sebagai manusia yang percaya akan Kasih Allah melalui tiga tahapan yang di jalani Yesus, mestinya benar-benar bisa dilakukan dalam keseharian hidupnya. Dan Gereja sebagai tempat persekutuan bagi umat yang percaya itu, harus mampu mengfasilitasinya. Prinsipnya, gereja harus menjadi cermin bagi orang-orang yang bersekutu di dalam-Nya.

Paskah dan Gereja di Halmahera

Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh para zendeling, untuk mempersekutukan orang-orang Halmahera dengan Kristus. Meski upaya-upaya yang dilakukan begitu sulit, namun berhasil menyatukan orang-orang Halmahera dari Timur ke Barat, pun Utara ke Selatan, dalam persekutuan iman bersama Kristus. Tentu upaya yang dilakukan oleh para Zendeling di tanah Halmahera itu, tidak terlepas dari Kasih Allah, untuk di wujudkan dalam kehidupan persekutuan yang percaya kepada Yesus sebagai penyelamat dan sumber dari Kasih. Lantas sebagai penerima Kasih Allah, apa yang di lakukan oleh GMIH dalam mewujudkannya?

GMIH sejak 1949 (sah berdiri sebagai gereja) tumbuh dan besar bersama budaya orang-orang Halmahera. Halmahera yang di kenal dengan budaya “homakodora” (saling menyayangi)”, nampaknya akan memberi pertumbuhan yang subur bagi GMIH untuk merealisasikan misi Kristus. Tentu juga, hal tersebut menjadi harapan besar bagi generasi Halmahera serta gereja ini. Pada bagian ini, penulis mengandaikan “Jika “homakodora” (saling menyayangi : Kasih) menjadi dasar dalam kehidupan berGMIH, maka gereja ini akan mampu menjawab misi pelayanan Kristus. Kasih selalu menjadi sorotan dalam kehidupan bergereja.

Jika budaya orang Halmahera di atas di kaitkan dengan tema yang di suguhkan oleh PGI dalam momentum perayaan Paskah di tahun ini, maka keduanya memiliki hubungan erat, yaitu; tentang Kasih. Lantas dalam menerapkan Kasih, kebenaran atau pembenaran yang harus di kedepankan? Yesus dalam perumpamaan-Nya tentang Kasih, terdapat dalam cerita “anak yang hilang” (Lukas 15:1-3; 11-32), juga menjadi pembacaan yang di suguhkan oleh Teologi dan Ajaran GMIH pada minggu kemarin. Dalam akhir perumpamaan pada teks tersebut, “ayah mampu mengampuni anaknya yang berbuat kesalahan besar”.

Artinya, jika Kasih di dasarkan pada pembenaran atau kebenaran, maka anak dalam cerita perumpamaan yang melakukan kesalahan itu tidak akan di ampuni. Maka jelas, bahwa Kasih tidak dapat di ukur dari pikiran manusia tentang kebenaran atau pembenaran. Itu berarti, Kasih lebih besar dari nilai kebenaran menurut manusia. Sederhananya, saling memberikan pengampunan adalah wujud dari Kasih Allah. Dan gereja wajib melakukan  hal demikian, sebagai keteladanan manusia  kepada Yesus yang merupakan sumber dari Kasih itu.

Paskah, Konflik GMIH dan Makna Teologisnya

Sejak 2013, GMIH mengalami perpecahan yang menghasilkan dualisme kepemimpinan (sinode). Perpecahan tersebut atas perbedaan pikiran dalam merumuskan perjalanan bergereja, yang di mulai dari Sidang Sinode di Dorume, Loloda, Halmahera Utara, provinsi Maluku Utara. Namun tidak sedikit prespektif yang melihat sebab-akibat dari perpecahan ini, diantaranya; perebutan jabatan struktural, keterlibatan gereja pada politik praktis (baca : Pilgub 2013) serta hal-hal kecil lainnya. Sejak perpecahan itulah, GMIH kehilangan jati dirinya sebagai gereja yang melanjutkan misi Kristus dalam kehidupan bersosial.

Akibat perpecahan itu, GMIH tidak lagi menyelesaikan problem internal dan eksternal berdasarkan Kasih, melainkan hukum dunia (baca : Peristiwa persidangan kasus GMIH). Mirisnya, sebagai gereja turut terlibat dalam pertikaian perebutan aset/kekayaan yang di miliki oleh GMIH. Nah, pada bagian ini, penulis menyebut gereja telah menjadi ladang bisnis. Jika sudah begini cara bergereja kita, maka bagaimana Kasih di terapkan? Kasih atas dasar pembenaran? Lalu siapa yang menjadi teladan dari kasih atas dasar pembenaran itu?

Menghadirkan kembali teks tentang “anak yang hilang” pada bagian ini, untuk menjawab dua pertanyaan di atas. Teks tentang anak yang hilang itu, justru menggambarkan dengan jelas, bahwa hanya dengan pengampunan (bukan pembenaran) kita mampu mendamaikan kekacauan. Di situ letak Kasih yang murni seorang bapak kepada anaknya, yang di perlihatkan Yesus pada perumpamaan-Nya. Prinsipnya, tidak ada yang lebih besar dari saling mengampuni sebagai wujud dari Kasih. Apalagi sebagai gereja.

Momentum Paskah dengan suguhan tema di tahun ini, akan memberi pesan besar bagi kehidupan GMIH lewat pertanyaan-pertanyaan yang bersifat reflektif, adakah pengampunan di balik konflik yang berkepanjangan ini? Dapatkah kita (GMIH) menyudahi segala bentuk persoalan untuk saling memaafkan? Bisakah Kasih menjadi jalur dari semua penyelesaian masalah yang di hadapi? Semoga Kasih Allah tidak pula terpisahkan dari jalan pikiran kita. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.