70 Tahun Dies Natalis GMKI

Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

70 Tahun Dies Natalis GMKI

Oleh Ater Tjaja

Presiden Soekarno memberi judul Pidato kenegaraan 17 Agustus 1966, yakni, “Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.” Oleh Kesatuan Aksi, pidato ini kemudian diberi judul jasmerah, disingkat dari jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, yang kemudian hari begitu populer dalam diskusi, tulisan sambutan dan lain sebagainya, untuk menjelaskan pentingnya sejarah, termasuk sejarah organisasi.

Ater Tjaja

Hari ini Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Memasuki usia 70 tahun. Secara teologis, Mazmur 90:10 menggambarkan usia 70 manusia adalah pencapaian hidup, sisanya bonus. Angka 70 tahun bagi sebuah organisasi juga sebuah pencapaian hebat. Bahkan kalau dikalkulasikan sejak adanya CSV op Java, maka organisasi ini sudah lebih dari 70 tahun. Syukur atas capaian itu adalah hal yang sangat wajar, karena kehadiran GMKI beriringan dengan perjalanan naik turunnya Indonesia sebagai negara. Waktu sebagai juri telah menguji seberapa tangguhnya si Biru ini menghadapi beragam kebijakan politik tiap rejim. Karena itulah usia 70 menjadi titik temu semua anggota dalam doa dan refleksi.

Para anggota yang usia dan atau lebih dahulu mengenal serta mengalami GMKI seringkali diberikan kesempatan berbagi pengalaman. Hal ini telah menjadi tradisi dari cabang sampai pada tingkat nasional. Harapan para anggota yang biasa dipanggil senior itu jelas sebagai motivasi bagi kader atau anggota yang lebih muda.

Karena itu, sebagai fungsionaris organisasi, cerita para senior tidak mesti dianggap nostalgia semata, karena bila itu yang terjadi, maka gerakan ini akan tenggelam dalam romansa sejarah saja. Atau sebaliknya, bila mengagumkan masa lalu dan hendak mengembalikannya juga merupakan sebuah tindakan naif, karena jaman telah banyak berubah. Itulah sebabnya jasmerah mesti dipahami sebagai pengingat bagaimana organisasi ini hadir dan berkembang serta prinsip etis yang terkandung di dalamnya sebagai tujuan kedirian dan masa depannya.

Dengan begitu organisasi ini menjadi organisasi yang memerdekakan anggotanya menjadi kritis dan kreatif serta menjalankan segala programnya dengan kegembiraan atau kebahagiaan, karena menurut Epictetus, Filsuf Yunani, kebahagiaan dan kebebasan dimulai dengan sebuah pemahaman yang jelas atas satu prinsip. Yaitu mana yang ada dalam kontrolmu dan mana yang bukan.

Selanjutnya GMKI mau kemana atau quo vadis GMKI? Merupakan pertanyaan dibalik doa-doa dan harapan semua anggota organisasi ini. Unik, karena harap dan tanya berpeluk erat dalam refleksi 70 tahun GMKI.

Konon istilah quo vadis adalah istilah yang muncul saat percakapan antara Petrus dan seseorang yang ditemuinya di gerbang kota Roma. Adapun Petrus tujuannya keluar kota Roma berlawanan arah dengan orang yang ditemuinya itu dan Petrus bertanya ke orang tersebut, quo vadis domine? Mau ke mana tuan? Jawab orang itu, aku hendak pergi ke Roma untuk disalibkan lagi. Kemudian Petrus menyadari kalau orang tersebut adalah Yesus, Sang Guru yang pernah disalib dan bangkit serta telah naik ke sorga. Akhirnya Petrus berbalik lagi ke kota Roma untuk mengakhiri pelayanan yang telah dimulainya, kendati dengan resiko disalibkan, bahkan dengan posisi terbalik sesuai permintaannya.

Lain Roma lain Jakarta. Soekarno, sang pencetus jasmerah itu, pernah mempunyai sahabat yang dipanggilnya domine, yakni Johanes Leimena, salah seorang pendiri GMKI. “Ambillah misalnya Leimena…. Saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui.” Begitu testimoni Soekarno terhadap Om Jho dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007) yang ditulis Cindy Adam.

Om Jho telah menempatkan karya mulia bagi Indonesia yang menjadikannya dikenang, tidak hanya dalam lingkungan GMKI tetapi anak bangsa yang lain. Pengakuan Ridwan Saidi tentang Om Jho dalam kasus Masyumi dan HMI, kesederhanaan yang dituliskan oleh Faisal Basri dan Harus Munandar karena hanya memiliki 2 potong kemeja dan menteri yang sewa kost berdua dengan rekannya, dan banyak kisah menarik lainnya dari Om Jho, si domine adalah deretan testimoni bagi Om Jho.

Om Jho hadir dalam masa yang sangat berbeda dengan hari ini. Mengulang kembali masa tersebut sangatlah mustahil. Tetapi menghadirkan sosok seperti Om Jho itulah yang menjadi salah satu pergumulan GMKI, salah duanya adalah mempersiapkan model pengkaderan sesuai perkembangan jaman, dan Salatiga merupakan tempat pelaksanaan dies natalis GMKI ke 70.

Andai Om Jho hadir dalam dies Natalis GMKI ke 70, maka kemungkinan Om Jho akan diberikan kesempatan untuk memberikan pidato. Om Jho kemudian diantar ke mimbar oleh beberapa orang. Seluruh hadirin yang ada dalam ruangan serentak berdiri dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Sesampainya di mimbarpun tepuk tangan itu belum berkurang volumenya. Itu penanda sebuah kebanggaan GMKI memiliki Om Jho. Beliaulah yang akan memberikan kode untuk sesegera mungkin peserta dies natalis berhenti menepuk tangan karena beliau akan bicara. Diketuklah pengeras suara untuk memastikan pengeras suara dalam keadaan hidup. Ditataplah semua wajah yang ada dalam ruangan itu. Coba mengenali dan juga coba memahami lewat ilmu psikologi yang pernah didapatinya di Stovia dulu. Ada rektor, ada para dosen, ada anggota dewan, ada yang bekerja di instansi pemerintah, ada para pendeta, lalu kemudian matanya juga menangkap pemandangan para pemuda yang menurut dugaannya adalah mahasiswa dan pasti mereka inilah fungsionaris organisasi. Ganteng dan cantik dalam balutan batik lengkap dengan atribut organisasi. Wajah klimis mereka makin terlihat manis, kendati segudang idealis berkecamuk dalam urat-urat di dahi mereka. Mereka inilah juga yang meneruskan seluruh rencana kegiatan lewat alat canggih mereka yakni telepon genggam. Alat yang dimiliki seluruh peserta dies dalam ruangan yang sedari tadi diperhatikan masing-masing orang sejak ibadah berlangsung.

Om Jho belum berucap apa-apa, namun dalam keheningan itu, aura ketenangan yang memperlihatkan wibawa Om Jho membenarkan semua testimoni tokoh Republik ini yang sebagiannya sudah disebutkan di atas. “Terima kasih saya ucapkan” , suara parau nan lembut meluncur keluar dari mulut Om Jho. Suara ini mengingatkan kita pada nada suara Musa saat usia tua yang diperankan Christian Bale dalam film Exodus: Gods and Kings.

Om Jho kemudian melanjutkan pidatonya dengan kata-kata yang pernah diucapkan dulu, “hari kemarin adalah hariku, hari ini dan esok adalah harimu.” Selesai mengucapkan demikian Om Jho bergerak menandakan hendak turun dari mimbar. Tepuk tangan kembali mengangkasa. Semua orang berdiri bahkan bersorak gembira telah mendengarkan suara beliau. Sebagian orang bertanya, cuma begitukah? Namun sebagian orang berkata, walau singkat, Om Jho telah mengajar kita untuk membedakan mana sambutan dan mana pidato. Tetapi tiba-tiba suasana berubah menjadi sedikit “panik”, saat Om Jho tidak berjalan menuju kursi tempat dia duduk sebelum berpidato, melainkan menuju pintu keluar. Terdengarlah teriakan dari banyak orang yang terheran itu dengan menggunakan sapaan Soekarno untuk Om Jho : quo vadis domine? Om Jho terhenti langkahnya karena mendengar pertanyaan tersebut. Om Jho berbalik dan berkata seolah berbisik karena tanpa pengeras suara: bukankah telah kukatakan tadidi atas mimbar? Mestinya aku berbalik bertanya kepada kalian, qou vadis GMKI?

Selamat merayakan Dies Natalis GMKI ke 70 tahun. Ut Omnes Unum Sint

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *