Opini
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Apakah Yesus Ikut Pilkada?

Apakah Yesus menjadi anggota partai politik? Pasa zaman itu ada empat partai politik yang juga merupakan mazhab dalam agama Yahudi. Jadi, Yesus mempunyai sedikitnya empat pilihan.

Steven Sambaki

Pertama, Partai Eseni. Semua anggotanya laki-laki yang membujang. Mereka melarang anggotanya menjadi tentara, pegawai negeri, atau pedagang. Mereka bekerja keras sebagai petani atau pengrajin, namun tidak mempunyai harta pribadi, sebab semua penghasilan digabung sebagai milik bersama. Berbeda dengan orang Yahudi lain yang berdoa sambil berkiblat ke Bait Allah, orang Eseni berkiblat ke matahari. Mereka juga cenderung mengasingkan diri dari urusan duniawi, bahkan ada yang tinggal di biara berdaya tamping seribu orang di Qumran. Mereka menekankan kesalehan dan kesucian dengan banyak berdoa dan berpuasa.

Kedua, Partai Sikari atau Zelot. Mereka kebanyakan terdiri dari para tukang, nelayan dan pedagang kecil. Mereka melawan pemerintah penjajah secara sembunyi dengan kekerasan senjata. Bagi mereka, membayar pajak dianggap sebagai pengkhianati Allah. Mereka percaya bahwa kerajaan Allah akan datang bila Israel menjadi tanah suci dan merdeka dari penjajahan kekaisaran Roma. Sebab itu, mereka melakukan perlawanan di bawah tanah terhadap pasukan Roma. Partai ini juga memperjuangkan nasip hidup rakyat kecil. Mereka membenci orang Saduki yang menarik untung dari rakyat kecil dengan mewajibkan orang membeli hewan korban di Bait Allah.

Ketiga, Partai Saduki. Mereka terdiri dari kaum bangsawan dan rohaniwan. Seperti tuan tanah, imam, tua-tua, dan orang-orang berkedudukan tinggi. Mereka menyetujui bahwa imam besar diangkat oleh Roma dan Bait Allah diawasi oleh tentara Roma dengan imbalan bahwa orang Yahudi bebas beribadah.

Keempat, Partai Farisi. Terdiri atas orang-orang terpelajar, guru, pegawai negeri, dan ahli Taurat. Kaum Farisi merasa diri sebagai polisi agama, yaitu mengawasi semua orang untuk menjalankan Taurat, terutama dalam hal puasa, hari Sabat dan persepuluhan.

Yesus tidak menjadi anggota salah satu partai itu. Akan tetapi, Yesus berpolitik. Ia mempunyai sikap politik. Sikap politik-Nya antara lain tampak ketika orang bertanya apakah pantas membayar pajak kepada pemerintah penjajah. Yesus menjawab, “Barikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dana kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21). Sepintas lalu jawab Yesus ini terkesan menyangkut urusan pajak, namun sebetulnya jawaban itu mengandung sebuah isu yang mendasar, yaitu tentang hubungan agama dan Negara.

Dalam jawaban itu Yesus menunjukan bahwa orang mempunyai dwikewajiban atau dwitanggung jawab. Pertama, “Apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar”. Yang kedua, “Apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Dengan kata lain, orang mempunyai dwikewarganegaraan sebagai warga negara Kerajaan Roma dan sebagai warga Negara Kerajaan Allah. Selanjutnya, jawaban Yesus itu berimplikasi bahwa Negara dan agama merupakan dua entitas yang berbeda. Negara dan gama mempunyai bidang, urusan, tugas, dan wewenangnya masing-masing. Tidak boleh Negara dan agama dicampur menjadi satu.

Sikap politik Yesus yang lain tampak dalam pernyataan-Nya, “Kamu adalah garam dunia… kamu adalah terang dunia” (Mat.5:13-14). Jangankan menjauh dari dunia, Yesus malah menyuruh pengikut-Nya menjadi orang yang menggarami (artinya: menjadi pencegah kebusukan) sebagaimana fungsi garam. Selanjutnya, menerangi dunia (artinya; menjadi hati nurani) dunia sebagaimana fungsi cahaya.

Sikap politik Yesus itu menjadi dasar bagi keterlibatan gereja dalam politik. Jelas, gereja bukanlah lembaga politik. Gereja tidak menyamakan diri dengan sebuah partai politik. Gereja juga tidak menganjurkan umatnya memilih partai tertentu. Akan tetapi, gereja wajib melakukan pendidikan politik. Itu bukan berarti bahwa kita menjadi anggota suatu partai, melainkan bahwa kita mempunyai kesadaran politik. Kita bukan bersikap masa bodoh, melainkan mengkritisi dalam keadaan tertentu.

Kristus adalah Tuhan atas diri kita sebagai individu dan juga atas diri kita sebagai bangsa dan negara. Oleh sebab itu, kita turut berpartisipasi dalam menentukan warna keyakinan dan kebijakan mengatur negara/daerah. Salah satu cara partisipasi itu adalah ikut memberikan hak suara dalam pilkada. Dengan begitu, kita ikut menentukan nasib hari depan masyarakat sebab suara kita akan ikut dihitung. Di situlah, kita punya kesempatan memilih pemimpin yang bersih, gesit, cakap, kreatif, produktif, kata menyatu dengan perbuatan, adil kepada semua orang, semua golongan etnik, dan semua agama.
Dengan partisipasi itu kita sedang bersikap politis. Yesus pun jelas bersikap politis. Akan tetapi, apakah Yesus ikut pilkada? Tentu saja tidak. Sebab Kaisar Tiberius, Gubernur Pontius Pilatus, dan Gubernur Herodes Antipas muncul dengan cara siluman. Akan tetapi, Yesus ikut pilkada dalam artian bersikap politis.

Lalu, seandainya Yesus ada bersama kita sekarang ini, apakah Dia ikut Pilkada? So pasti! Lantas, siapa kandidat yang dipilih Yesus? Itu rahasia dong, Bung!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *