LUKMEN: Papua Miniatur Indonesia

Jayapura
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jakarta, HonaiPapua.com,- Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Lukas Enembe – Klemen Tinal menjelaskan dalam mempercepat pembangunan daerah sehingga kepala daerah harus beri ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreatifitas di dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Jadi, kita melihat Papua adalah miniatur Indonesia itu fakta, Papua adalah pluralisme, Papua boleh berwarna hitam dan keriting seperti saya tapi kita terdiri dari 240 suku. Di situ kita sudah menunjukan demokrasi itu seperti apa,” kata calon Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE., MM saat menjawab pertanyaan panelis dalam debat kandidat tahap III di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (2/6/2018).

Selama pimpin Papua periode I, pasangan petahana selalu merangkul masyarakat non Papua untuk sama – sama memperkuat integrasi sosial di tanah Papua yang di kapitalisasi nantinya menjadi integritas nasional di dalam kerangka NKRI.

“Harus kita sadari karena mempercepat pembangunan asimetriks dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019 dengan lima wilayah adat yang sudah jalan dan bukan hal baru tapi sudah lama sehingga boleh cek di Bappenas sekarang,” jelasnya.

Dikatakan, Papua adalah contoh yang demokratis secara kwantitas orang papua jumlah boleh sedikit, tapi secara kwalitas orang papua menjadi contoh apa itu nasionalisme, apa itu identitas nasional.

“Akhirnya kita kapitalisasi menjandi integritas nasional buat kemajuan Republik Indonesia yang kita cintai bersama,” ujarnya.

Calon petahana Gubernur Papua, Lukas Enembe menambahkan bahwa pada periode 2013-2018 pasangan Lukas Enembe – Klemen Tinal berhasil pimpin Provinsi Papua dengan slogan “Kasih Menembus Perbedaan”.

Sementara itu, calon Gubernur Papua nomor urut 2, Wempi Wetipo menjelaskan kalau kita berbicara bhineka Tunggal Ika itu seharusnya Papua menjadi miniatur Indonesia karena di tanah Papua tidak pernah konflik antara suku ras dan agama.

“Jadi, sebenarnya kalau kita mau jujur sebenarnya Papua menjadi corong bagi Indonesia raya bagaimana menyatukan suku, kelompok, ras dan agama,” kata Wempi Wetipo. (bal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *