Yosep Titirlolobi : FS Pemilik PT Intraco Menjaminkan Bangunan Double O Untuk Mengajukan Kredit 10 Milyar Di Bank

Hukrim
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sorong,Honaipapua.com, -Kuasa hukum Double O Yosep Titirlolobi dengan tegas membantah pernyataan dari pihak Ferry Saputra Pemilik Intraco Sorong yang melalui Kuasa Hukumnya di salah satu media cetak bahwa Direktur Utama Double O (Dirut. PT. Panca Indah Kurnia) perna meminjam uang 1 milyar kepada pihak PT Intraco melalui FS Pimpinan PT Intraco Itu tidak benar sama sekali.

Kepada media ini Selasa (20/7), diruang kerjanya, dijelaskan Yosep bahwa, di tahun 2018, pihak PT. Intraco melalui FS sendirilah yang mengambil pinjaman disalah satu Bank dengan menjaminkan Asset Tanah dan Bangunan Double O, padahal bangunan Double O dan Isinya bukan milik FS maupun PT Intraco, Klien kami selaku Direktur Utama Double O mengetahui Asset bangunan yang dijaminkan oleh FS ke Bank adalah pada saat bangunan Double O berdiri dan ada orang Bank datang dengan pihak Asuransi yang melakukan Foto-foto bangunan D.O untuk tujuan melakukan Asses nilai Bangunan DO yang baru saja dibangun.

” Saat Itulah Klien kami mengetahui kalau FS Melalui Usahanya PT. Intraco Eka Darma mengambil Pinjaman Disala Satu Bank di Kota Sorong dan atas Jaminan bangunan Double O beserta Isinya Itulah pihak Bank berani mencairkan 10 Milyar pinjaman kepada FS pemilik PT Intraco Sorong, “beber Yosep.

Atas kejadian saat itu, menurut Yosep, Kliennya merasa tidak terima dan dengan tegas keberatan, karena Double O sudah investasi asset senilai 20 M di Atas Tanah tersebut. ” Jika suatu Saat kredit FS macet maka Bank bisa menyita Asset bangunan Double O maka pihak Double O akan sangat dirugikan, “tutur Yosep.

Oleh Sebab Itu, kata Yosep, Kliennya meminta FS untuk segera melunasi pinjaman kreditnya di Bank tersebut, namun, FS sendiri sampai saat Ini masih beralasan dan ketakutan jika harus melunasi pinjaman Bank dan mengeluarkan asset Bangunan Double O dari Jaminan Bank, maka kerugian besar buat FS, karena FS sendiri sudah mengeluarkan biaya administrasi yang cukup besar mulai dari biaya Notaris, biaya APHT ditambah lagi biaya pelunasan Kredit dipercepat sehingga beban besar buat FS.

Untuk Itu, agar aksinya tidak diketahui FS dengan Liciknya melakukan negosiasi secara pribadi dengan Owner lainnya selaku pemegang saham di Double O, tidak Termasuk Direktur Utama Double O Klien Kami, Negosiasi FS Itu adalah menawarkan pinjaman sebesar 1 Milyar kepada para Owner tersebut dan berdasarkan rayuan manis dari FS akhirnya para Owner berhasil mengikuti rayuan FS Dengan alasan beritikad baik karena, selain sudah mengenal lama cukup lama FS tetapi yang terpenting adalah para Owner tidak mau masalah Ini menjadi ribut yang berkepanjangan dan berpotensi mengganggu efektifitas serta kelancaran jalannya perusahaan kedepan, meskipun secara finansial para Owner pemegang saham mampu memodali dirinya masing-masing, maka keinginan dan tawaran dari FS pimpinan PT Intraco Sorong diterima dan dibuatlah perjanjian pinjam-meminjam secara pribadi dengan nasing-masing Owner tersebut, dengan FS tertanggal 18 September 2018, “Ungkap Yosep.

Jadi, tujuan FS yang menawarkan pinjaman 1 Milyar adalah agar para Owner tersebut membantu FS agar tidak memperpanjang masalah Ini akibat dari perbuatan FS sendiri yang telah menggadaikan bangunan Double O tanpa Ijin RUPS dan aksi Licik dari FS Ini adalah agar supaya FS tidak didesak Oleh Klien kami yang juga sebagai Direktur Utama PT Panca Indah Kurnia.

” Karena sejak awal tambah Yosep, Kliennya tidak terima perbuatan FS tersebut dan terus mendesak FS agar segera melunasi pinjamannya 10 Milyar di Bank, akibat perbuatan FS yang telah mengagunankan bangunan Double O tanpa sepengetahuan semua Pemilik saham Yang Ada di Double O Yang jumlahnya 86.25%, dibanding Pihak FS yang melalui anaknya hanya memiliki saham cuman 13.75%, ” Tegas Yosep.

Jadi Menurut Yosep, pernyataan pihak FS melalui Kuasa Hukumnya di salah satu media Cetak bahwa Double O telah meminjam 1 Milyar kepada FS adalah suatu kebohongan dan memutar balikkan fakta yang terjadi, karena Klien kami Double O sudah secara tegas menyatakan sikapnya sejak awal bahwa dalam menjalankan perusahaan kami tidak butuh uang dari saudara FS satu Rupiahpun, karena 1 Milyar Itu sendiri diambil dari uang hasil pengajuan kredit oleh FS dengan mengagungkan bangunan Klien kami tanpa seijin dan sepengetahuan Klien kami yang juga sebagai Direktur Utama PT Panca Indah Kurnia.

” Kami juga sangat menyayangkan pernyataan kuasa hukum FS yg menyatakan Double O tidak mampu membayar uang sewa tahunan karena alasan pandemi”, kami pikir pernyataan kuasa hukum tersebut dikarenakan yang bersangkutan tidak paham atau sengaja berpura-pura tidak paham, bahwa kami tidak pernah menyatakan tidak mampu membayar sewa selama masih pandemi, yang kami nyatakan adalah sempat terjadi “keterlambatan” pembayaran sewa di tahun 2020 akibat dari awal terjadinya pandemi di bulan maret 2020.
Bahwa “tidak mampu bayar” selama pandemi dan “terlambat” membayar beberapa waktu saja dan akan segera membayar itu dua hal yg berbeda. Yang tidak dipahami pihak FS adalah soal kelonggaran waktu saja, hal mana wajar ditahun 2020 adalah awal terjadi Pandemi, jadi bukan tidak mampu membayar selama pandemi.

“Faktanya, pada saat sidang mediasi kami telah ajukan Point-point perdamaian yang Isinya termasuk Itikad baik kami untuk melunasi sewa namun saat Itu pihak FS sama sekali tidak menerima bahkan bertetap pada tuntutan dalam gugatannya, karena sesungguhnya motif FS itu semakin jelas terlihat hanya mengejar mimpinya hendak memiliki bangunan Double O dan segala Isinya”, terang Yosep lagi.

Dimana hal Itu tentunya tambah Yosep, menyalahi Aturan hukum, karena kenyataanya kerugian yang dialami FS dari sewa kontrak hanya sejumlah 300 juta tapi FS tergiur dan bermimpi untuk memiliki bangunan Double O dan segala isinya yg didasarkan pada klausul Pasal 6 perjanjian yang mana klausul tersebut jelas-jelas terlarang dan menyalahi hukum. Klausul seperti ini serupa sebagaimana ditegaskan Pasal 12 UU. No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, yg mana klausul seperti itu mengandung perjanjian milik “Beding” yang jelas-jelas dilarang oleh UU dan berbagai Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung yang konsisten melarang terkait klausul “beding” seperti ini, masa kuasa hukumnya FS yang sudah senior tidak paham hal semacam itu???

Yosep menambahkan, terkait ucapan kuasa hukum yang meminta agar pihak Double O memperlihatkan bukti atas pernyataan kami bahwa FS telah mengagunkan Bangunan Double O ke Bank, hal itu tentu kami sambut baik dan sudah barang tentu akan kami lakukan upaya hukum lebih lanjut berdasarkan bukti-bukti pendukung yang sudah kami kantongi serta saksi-saksi yang menerangkan fakta terkait hal itu, selanjutnya pihak Polisilah yang memiliki kewenangan melakukan penyelidikan lebih lanjut baik terhadap pihak Bank atau pihak manapun juga yang memiliki keterkaitan langsung dengan masalah tersebut guna membuat terang suatu tindak pidana, “tambah Yosep. (pic)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *