Perkara Asusila Duduki Peringkat Pertama Ditangani Kejari Kaimana

Hukrim
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kaimana,Honaipapua.com, -Sejak Januari hingga Desember tahun 2020 ini, Kejaksaan Negeri Kaimana yang juga baru di operasikan kurang lebih satu tahun empat bulan ini, berhasil menyelesaikan 58 perkara. Ini juga merupakan capaian kinerja yang didapatkan oleh Kejaksaan Negeri Kaimana, pasalnya, Kejaksaan Negeri Kaimana masih menggunakan kantor sementara dengan sarana prasarana yang masih perlu terus dibenahi dari waktu ke waktu.

Kepala Kejaksaan Negeri Kaimana, Sutrisno Margi Utomo, SH

Kepala Kejaksaan Negeri Kaimana, Sutrisno Margi Utomo, SH ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (22/12) menegaskan bahwa, 58 perkara yang sudah diselesaikan ini lebih didominasi perkara asusila.

“ Untuk perkara yang sudah kami tangani selama tahun 2020 ini adalah sebanyak 58 perkara. Dari 58 perkara ini, yang paling banyak adalah perkara asusila. Beda dengan daerah lain, mungkin yang paling tinggi adalah perkara narkotika atau sejenisnya. Kita di Kaimana ini asusila yang paling dominan,” ungkapnya.

Lanjut Kajari Margi Utomo, ada juga perkara asusila yang melibatkan orang terdekat korban. “Untuk perkara asusila ini, ada 4 perkara yang dilakukan oleh orang tua kandung korban. Ini yang sangat kita sesali. Selain itu, ada juga perkara lainnya seperti penyaniayaan, pencurian. Kalau untuk pencurian ini sebanyak 8 kasus. Sementara ada beberapa kasus juga yang saat ini masih terus jalan dan ditangani oleh Kejaksaaan Negeri Kaimana,” ujarnya.

Lanjut Kajari Kaimana, lebih banyak perkara asusila yang sudah ditanganinya ini, terjadi ketika pelaku sedang dalam kondisi dipengaruhi minuman beralkohol.

“Kebanyakan memang pelaku melakukan tindakan asusila ini dalam kondisi dipengaruhi miras. Khusus untuk tindakan asusila yang melibatkan anak yakni diatas 5 tahun. Sehingga atas perbuatannya tersebut, khususnya kekerasan seksual pada anak, ada yang mendapatkan hukuman 10 tahun, dan ada juga yang mendapatkan hukuman 11 tahun penjara,” jelasnya.

Selain itu, ada juga pelaku asusila yang melakukan tindakannya karena ingin mencoba atas konten-konten yang dilihat oleh pelaku.

“Ada juga perkara yang melibatkan remaja. Ini terjadi karena faktor pergaulan bebas. Mereka ini mencoba apa yang sudah mereka lihat melalui konten-konten yang mereka dapatkan. Mereka tidak sadari bahwa justru tindakannya tersebut bisa mendaptakan sanksi hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *