Kuasa Hukum FS Tidak Terima Kliennya Dikatakan Merampok

Hukrim
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sorong,Honaipapua.com, -Kuasa hukum FS, Yance Salambauw.SH.MH, didampingi Chris Tuatuarima.SH, mengatakan, tidak menerima kliennya FS dikatakan sebagai merampok dan masalah perjanjian sewa menyewa Gedung Tempat Hiburan Malam (THM) Double O tidak ada kaitan dengan PT.Intraco Dharma Ekatama.

Kepada sejumlah awak media Sabtu (10’7) kemarin di kantor Intraco, Kuasa Hukum FS, Yance Salambauw.SH, mengklarifikasi apa yang disampaikan oleh yang mengaku sebagai kuasa hukum Double O yang dimuat dibeberapa media online dan TV CWM. Kenapa demikian, karena setahu kami didalam dokument Pengadilan Negeri Sorong, kuasa hukum Double O bernama Muhammad Husni.SH. Dan yang kedua kami keberatan dengan statement Kuasa Hukum Double O Yosep Titirlolobi.SH yang mengatakan klien kami FS mengusai harta dan merampok secara halus. Kami keberatan pernyataan seperti ini, sebab bagi kami, merampok secara halus atau kasar itu sama disebut merampok. Sehingga dengan adanya statement yang telah disampaikan maka dengan waktu yang tidak terlalu lama, kami akan melakukan proses hukum.

” Disini saya mau sampaikan pokok permasalahannya, bahwa awalnya dibuat surat perjanjian Sewa menyewa tempat milik klien kami FS yang dilakukan dan ditandatangani Direktur Utama PT Panca Indah Kurnia, dan klien kami FS selaku pemilik tanah atau lahan yang telah dibangun THM Double O Itu masa sewanya 15 tahun yang terbagi dalam 3 fase. Dan didalam surat perjanjian kerjasama ada tercantum beberapa point kerjasama disebutkan pula bahwa dalam interval waktu empat bulan dalam keterlambatan pembayaran, maka objek yang berdiri diatas tanah sengketa itu menjadi pemilik tanah.
Person yang melakukan sewa menyewa mempunyai kedudukan posisi sewa menyewa adalah sama, tidak ada yang berbeda. Diketahui bahwa point surat perjanjian kerja sewa menyewa terbagi didalam 3 tahap, 5 tahun pertama telah sepakat dengan biaya pertahun lain, tahap kedua juga biaya pembayaran lain dan tahap ketiga harga pembayaran lain juga. Nah, pada tahun pertama dan kedua pembayaran lancar aman, akan tetapi pada tahun berikutnya dikatakan bahwa pada masa Pandemi Covid19 sehingga pihak Double O terkendala tidak membayar biaya sewa, pada hal, kami mendapat informasi bahwa pihak Double O dalam hal ini PT. Panca Indah Kurnia, ada melakukan pembayaran Dividen kepada para pemegang saham, jadi, harus dibayar walaupun pada masa Pandemi karena hal ini tidak bisa dikatakan ‘force Majeure’, selain itu, pihak manajemen Double O tidak merugi, sebab kuasa hukum tersebut juga pernah merilis berita di media untuk mendesak Walikota Sorong untuk menutup Double O karena masih terus beroperasi di masa Pandemi dan tidak ada yang melakukan penggelapan dokumen seperti yang dituduhkan, dan kalau memang Dokumen surat perjanjian kerjasama yang dari awal telah dibuat bersama sudah tercecer atau hilang, bisa diberitahu kepada klien kami FS agar diberikan copy nya dan juga seharusnya kalau ada kendala dalam membayar sewa dari pihak Double O harus disampaikan secara lisan atau tertulis kepada klien kami FS agar diketahui itikad baiknya, tetapi nyatanya tidak ada seperti itu, sehingga hal inilah yang membuat klien kami FS menggunggat ke Pengadilan Negeri Sorong dengan perkara Wanprestasi, dan kami akan membuktikan hal tersebut di Pengadilan, “ungkap Yance Salambauw.

” Jadi, sekali lagi, saya tekankan bahwa Klien kami FS tidak terima karena dikatakan merampok, dan PT Intraco adalah bisnis lain terpisah dengan surat perjanjian kerja bersama Double O dalam hal ini PT.Panca Indah Kurnia, “tambah Yance Salambauw lagi. (***)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *