Kasus Ujaran Kebencian Polres Tatap Muka Dengan Tokoh Agama

Hukrim
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KAIMANA, Honaipapua.com,- Untuk meminimalisir terjadinya tindakan-tindakan yang tidak diharapkan atas kasus penyebaran ujaran kebencian oleh SRA (14) beberapa hari yang lalu, maka pihak polres Kaimana mengundang seluruh pihak diantaranya, FKUB, tokoh lintas agama untuk membicarakan hal ini.

Kegiatan tatap muka yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Kaimana, AKP. Walman Simalongo, SH ini dilaksanakan di ruang pertemuan unit reskrim Kaimana, (22/5).

Hadir dalam tatap muka ini, orang tua dan beberapa keluarga pelaku.
Mengingat kasus ini tentu sangat sensitive, apalagi tentang ujaran kebencian terhadap salah satu agama sesuai yang diposting oleh remaja (14), sehingga seluruh tokoh agama yang ada di kabupaten Kaimana diundang untuk berdiskusi dan bisa mencari titik terang terhadap penyelesaian kasus ini.

Dikatakan Kasat Walman, tatap muka ini juga sekaligus untuk mengetahui sejauh mana reaksi dari seluruh masyarakat, terutama umat atau jemaat yang disebut didalam postingan tersebut.

Menurutnya, pihaknya sengaja mengundang seluruh tokoh agama dengan maksud, agar tidak terjadi reaksi-reaksi yang nantinya justru akan memperkeruh suasana.

” Artinya Kaimana ini kan sudah menjadi salah satu kota kabupaten teraman di wilayah Papua Barat. Sehingga kami juga karena melihat kasus ini cukup menyita perhatian seluruh masyarakat Kaimana, maka kami sengaja mengundang tokoh-tokoh agama, untuk berdiskusi. Kira-kira terkait kasus ini tv oleh semua pihak, sehingga jangan sampai terjadi perpecahaan antar umat beragama yang ada di kabupaten Kaimana, “tututurnya.

Lanjut Kasat, kalau bicara soal bakar Gereja ini sudah biasa. Tetapi yang kami pikirkan, kenapa anak usia 14, sudah bisa memposting hal-hal yang justru bisa mengarah kepada perpecahan antar umat beragama. Ini yang kami sayangkan. Sehingga pada pertemuan berikutnya nanti, kiranya ada kesepakatan antara lintas tokoh, untuk menyelesaikan permasalahan ini.

” Dan secara pribadi saya merasa tidak masuk akal dengan postingan yang dilakukan adik ini, karena dari sisi usia, dia pasti belum mengerti dan memahami baik hal ini. Sehingga kami serahkan kembali kepada pihak polres Kaimana, untuk bisa menelusuri kasus ini. Kami tidak berprasangka buruk, tetapi jangan sampai ada orang lain dibalik postingan ini, “ungkapnya.

Hal ini juga hampir disampaikan oleh seluruh perwakilan dari klasis-klasis yang ada di kabupaten Kaimana, termasuk dengan pastor paroki St. Martinus Kaimana, Rm. Santo, O.Carm, dan juga ketua MUI kabupaten Kaimana.

Ketua FKUB Kaimana, Drs. Arnoldus Baronama, mengungkapkan, kasus seperti ini baru pertama kali terjadi di Kaimana, dan sudah mencoreng citra diri orang Kaimana, dimana dikenal dengan masyarakatnya yang sangat utamakan sikap toleransi.

” Kalau dari kami FKUB, kami berharap agar kasus ini menjadi yang terakhir kali. Kaimana ini sudah dikenal luas sebagai agama keluarga dengan falsafahnya satu tungku tiga batu. Satu keluarga mungkin ada Kristennya, ada Katoliknya dan ada Islamnya. Tetapi dari dulu tidak terjadi hal-hal seperti ini. Baru ditahun 2018 ini, kasus ini muncul. Sehingga kami hanya bisa menyampaikan bahwa kasus ini kami serahkan kepada pihak berwajib, karena kami juga perlu mengetahui ada apa dibalik ini semua, “ungkapnya. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *