Diduga Aniaya Wanita, Mantan Kapolsek Ditahan Propam ‘Kuasa Hukum Korban Minta Polisi Bertindak Profesional Dalam Penanganan Kasus Ini’

Hukrim
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sorong,Honaipapua.com, -Seorang oknum perwira Polres Sorong Kota, Papua Barat, ditahan pihak Propam Polres Sorong Kota, terkait dugaan tindak pidana penyekapan dan penganiayaan. Pelaku berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) tersebut, diduga melakukan tindak pidana terhadap seorang teman wanitanya berinisial B (42).

Atas perbuatannya, oknum perwira yang merupakan mantan Kapolsek di Polres Sorong Kota itu, meringkuk di ruang tahanan Propam Polres Sorong sejak 28 Januari 2020, selama proses hukumnya berlangsung. Insiden penyekapan dan penganiayaan korban B, terjadi dikontrakan pelaku pada Desember 2019 lalu.

“ Dia itu mantan Kapolsek Sorong Barat, Saya di sekap selama 10 hari dari tanggal 13 – 23 Desember 2019. Saya dipukuli dengan benda-benda di sekitar dia, termasuk dengan senjata api miliknya kemudian mengancam menembak saya,” ujar korban inisial B, saat ditemui di salah satu hotel di Jalan Basuki Rachmat, kawasan KM-7, 5 Kota Sorong, Sabtu Kemarin (14/03/2020).

Korban menuturkan, disuruh telanjang dan berdiri dengan kaki sebelah hingga pagi. Kemudian disuruh push up dengan keadaan tangan bengkak. “Dalam keadaan telanjang, Saya juga disuruh menjilat lantai dan pelaku merekam semua yang saya lakukan bahkan perhiasan saya juga dirampas,” ungkap korban dengan mata yang berkaca-kaca.

Tak hanya itu, korban mengakui, selama penyekapan berlangsung kerap diperlakukan tak manusiawi oleh pelaku.

“ Pelaku juga menyuruh saya makan kecoak dan meminum air dari penampungan di kamar mandi. Menggunting rambut saya dan memecahkan barang-barang saya termasuk kacamata saya. Akibat penganiayaan saya tidak bisa beraktivitas, seluruh badan saya bengkak, saya deman, saya tidak bisa apa-apa. Ketika mengingat kembali semuanya, saya trauma,” beber korban.

Korban mengakui jika tindak penganiayaan tersebut terjadi dilatarbelakangi adanya kecemburuan maupun tuduhan tak berdasar pelaku terhadap korban. Mulai dari tuduhan selingkuh, mengambil barang milik pelaku hingga ingin meracuni dan membunuh pelaku menggunakan racun tanah kuburan.

“Pelaku sebenarnya sudah mempunyai wanita idaman lain sehingga dia inginkan saya pergi dari hidupnya, sehingga dia melakukan kekerasan ini kepada saya,” beber korban.

Sementara itu, Tim kuasa hukum korban, Jatir Yuda Marau, meminta kepolisian menyelesaikan kasus ini sesuai aturan hukum yang berlaku. Penyidik diminta menjerat pelaku dengan pasal penyekapan, penganiayaan hingga pencurian dengan kekerasan.

“ Kami harap penyidik dapat bekerja cepat dan bisa mengembangkan ini terhadap dua pasal tadi yaitu penyekapan dan penganiayaan yang mengakibatkan luka berat, yang kedua pencurian dengan kekerasan atau perampasan. Kami harap dikembangkan kesitu,” ujar Ketua Tim Kuasa Hukum Korban, Jatir Yuda Marau dalam rilis kepada awak media Minggu (15/ 03/ 2020).

Kuasa hukum korban pun berharap penyidik Polres Sorong Kota dapat bekerja secara profesional dan tanpa intervensi dari pihak manapun. Sehingga kasus ini dapat tuntas.

“ Kami berharap, klien kami ini akan mendapatkan keadilan yang sebesar-besarnya, yang adil. Agar tidak ada kecurigaan terhadap penegak hukum yang selama ini masyarakat merasa bimbang dan lain sebagainya,” ujar Yoseph Titirlolobi, salah satu anggota Tim Kuasa Hukum korban.

Hingga kini, Polres Sorong Kota belum memberikan pernyataan sejak proses penahanan pelaku, hingga tahapan pemeriksaan saksi-saksi. Rencananya, pernyataan resmi akan disampaikan Kapolres atau Kasat reskrim Polres Sorong Kota pada Senin (16/03/2020). (cay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *