Perindagkop Siap Dukung Program Aksi Pembangunan Sentra Ekonomi di Distrik

Ekbis
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kaimana,Honaipapua.com, -Salah satu rencana aksi pasangan bupati dan wakil bupati terpilih Kabupaten Kaimana, Fredy Thie dan Hasbulla Furuada, SP adalah membangun sentra ekonomi yang ada dimasing-masing distrik. Rencana aksi ini tidak semata dilontarkan saat kampanye pilkada kemarin, namun menjadi satu rencana aksi diantara berbagai program aksi yang akan dilaksanakan oleh pasangan ini saat menjabat nantinya.

Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Kaimana, Agustinus Janoma, SE, MM

Rencana aksi pembangunan sentra ekonomi ini juga masuk dalam draft percepatan pembangunan Kabupaten Kaimana tahun 2021-2026. Tentunya dari sekian program aksi ini, pelayanan pemerintahan dan pendekatan pembangunan di Kaimana, khususnya periode 2021 – 2026 harus mengacu pada visi dan misi pasangan calon terpilih yakni Fredy Thie dan Hasbulla Furuada, SP.

Untuk itu, Dinas Perindagkop Kabupaten Kaimana telah melakukan rapat pembahasan program kegiatan yang nantinya akan disinkronkan dengan visi dan misi, serta rencana aksi dibidang perekonomian yakni; membangun sentra ekonomi yang ada dimasing-masing distrik. Disperindagkop juga akan menyesuaikan program kegiatannya agar visi dan misi pasangan calon terpilih bisa direalisasikan.

“Kami dari dinas perindagkop Kabupaten Kaimana melihat bahwa, sentra ekonomi ini, mungkin pertama yang harus kami lakukan adalah, menyiapkan los pasar disitu. Sebagian ibu kota distrik, ada yang sudah ada pasarnya. Sehingga kedepannya kita mungkin membangun semacam los pasar, dan los itu nanti kita fungsikan untuk menyiapkan bahan sembako, yang harganya murah sama seperti harga yang ada di ibu kota kabupaten,” ungkap Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Kaimana, Agustinus Janoma, SE,MM, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (14/4).

Menurutnya, los pasar yang akan dibangun ini sebagai perangsang untuk masyarakat, sehingga diharapkan nantinya, los pasar ini akan menjadi pusat ekonomi masyarakat Distrik.

“Kita siapkan sembako yang harganya murah sama seperti kota, sehingga ini bisa merangsang masyarakat untuk datang ke los pasar ini. Kalau harganya sudah sama dengan kota, saya pikir, masyarakat tidak akan lagi ke kota, karena cukup sampai di distrik, mereka sudah mendapatkan sembako yang murah. Daripada harus mengeluarkan biaya operasional yang tinggi untuk membeli di kota,” tuturnya.

Lanjut Janoma, jika los pasarnya sudah ada, maka harus disediakan juga gudang penampungan hasil masyarakat. “Untuk menampung hasil masyarakat di distrik, kita perlukan semacam gudang. Sehingga disini, kita bisa menampung semua hasil masyarakat. Nantinya barang-barang yang sudah terkumpul di gudang ini, kita salurkan ke kota Kaimana. Kita akan berdayakan orang kampung atau distrik sendiri untuk mengelolah itu. Tentunya dengan pendampingan yang ketat dan maksimal, sehingga dia bisa mengelolah itu,” terangnya.

Janoma juga mengatakan bahwa, jika los pasar dan gudang ini sudah ada, maka aktifitas ekonomi akan tumbuh dititik ini.

“Jadi apa yang kurang disitu, kita siapkan. Kalau memang BBM juga dibutuhkan masyarakat, kita bisa sediakan BBM juga untuk masyarakat, sehingga mereka bisa mendapatkan BBM yang murah dengan harga di kota. Artinya, upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat ke kota Kaimana ini, kita potong disitu. Karena ketika mereka mau ke kota, maka mereka harus mengeluarkan biaya operasional yang tinggi. Ini yang perlu kita potong, sehingga cukup mereka sampai di distrik dan mereka sudah bisa membawa pulang kebutuhan pokok yang dibutuhkan,” bebernya.

Salah satu langkah penting yang juga nantinya akan dilakukan disperindagkop adalah dengan membuat pusat industri rumahan.

“Yang pasti tujuan utama dari semua program pemerintah adalah masyarakat bisa diberdayakan. Masyarakat harus mampu mengelolah potensi lokal mereka. Kalau mereka sudah bisa kelolah sendiri hasil kebunnya, maka tentu penghasilan mereka juga akan bertambah. Untuk itu, diperlukan industri rumahan, bisa dari sisi seni kreatif, tetapi juga panganan lokal. Misalnya, pala, pisang, keladi, petatas, mereka bisa oleh itu untuk menjadi panganan lokal yang nilai ekonomisnya juga tinggi, seperti kripik pisang, keladi, petatas. Tinggal diatur pasarannya,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut dia, evaluasi harus dilakukan ketika hal ini sudah jalan. “Kemauan masyarakat ini menjadi kunci utama. Karena merekalah yang akan melakukan itu. Sehingga perlu ada pendampingan yang serius dari dinas-dinas terkait, bahwa mereka tidak hanya dengan menjual bahan mentah, tetapi mereka juga bisa menghasilkan produk olahan yang nilai jualnya juga bisa lebih tinggi jika dibandingkan dengan menjual bahan mentah. Ini yang kita harapkan kedepannya agar perekonomian masyarakat di tingkat distrik ini bisa menggeliat,” pungkasnya. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *