IPM Papua Terus Mengalami Kemajuan

Ekbis
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jayapura, Fajarpapua.co – Badan Pusat Statistik Provinsi Papua merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua terus mengalami kemajuan dimana tahun pada tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua mencapai 59,09. Angka ini meningkat sebesar 1,04 poin dibandingkan tahun 2016.

Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS PRovinsi Papua, Eko Mardiana, SE, menjelaskan, Bayi yang lahir pada tahun 2017 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 65,14 tahun, lebih lama 0,02 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

“ Anak-anak yang pada tahun 2017 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 10,54 tahun, lebih lama 0,31 tahun dibandingkan dengan tahun 2016,” katanya dalam rilis BPS, Senin (7/5/2018).

Pada tahun 2017, masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebesar 6.996 juta rupiah per tahun, meningkat 359 ribu rupiah dibandingkan tahun sebelumnya.

“ Penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 6,27 tahun, lebih lama 0,12 tahun dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

BPS Papua juga menjelaskan perbedaan IPM Papua tahun 2013 keatas dan IPM sekarang karena ada perubahan metode perubahan komponen perhitungan.

“Perbedaan IPM Papua tahun 2013 dan sekarang karena perubahan metode dan semua daerah pada saat itu mengalami penurunan IPM. Intinya IPM Papua tidak pernah menurun bahkan kenaikannya fluktuatif itu biasanya terjadi,” katanya.

Pihaknya sangat menyayangkan ada pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Papua periode 2018-2023 menggunakan data BPS dalam penyampaian visi misi tentang IPM Papua, namun tidak menyebutkan secara rinci perbandingan IPM Papua tahun 2013-an dan sekarang yang sudah mengalami perubahan metode.

“ Jadi, jangan kita bandingkan metode lama dengan metode baru, pasti hasilnya sangat jauh berbeda. IPM tahun 2013 dibandingkan dengan IPM tahun sekarang yang metodenya beda, padahal itu murni karena perubahan metode tapi tidak disebutkan bahwa perubahan IPM karena perubahan metode juga itu yang menyesatkan,” jelasnya.

Perubahan metode perhitungan IPM bukan saja terjdi di Indonesia saja tapi seluruh dunia yang menggunakan data statistic mengalami perubahan. “Ada beberapa Negara juga mengalami penurunan IPM karena konsukwensi dari perubahan metode,” ujarnya.

Perubahan komponen dulu angka melek huruf diganti dengan harapan lama sekolah, metode perhitungan laju pertumbuhan dulu pake metode frekuensi softword sekarang LPP biasa saja, dulu menggunakan aritmetik sekarang geometrik.

“ Intinya penurunan IPM Papua karena perbedaan metode, hampir pasti dan selalu pertumbuhan IPM Papua dengan metode yang sama selalu naik,” katanya.

Diharapkan data BPS tidak boleh di politisir dalam pelaksanaan Pilkada serentak di Provinsi Papua 2018. “ Berbohong dengan data statistik itu gampang, tapi menjelaskan tanpa data statistik itu susah,” ungkapnya. (bal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *