Ketua DAP Doberay Menyatakan Senpi digunakan sebagai Pembayaran Mas Kawin Suku Besar Arfak, Jangan Dipidana karena itu Hukum Adat

Adat
Bagikan berita ini

Manokwari,Honaipapua.com, -Selaku pemimpin masyarakat Adat Papua Wilayah III Doberay Papua Barat yang membawahi 10 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Papua Barat, menyampaikan kepada Seluruh masyarakat Indonesia terutama yang berdomisili di Wilayah III Doberay Papua Barat bahwa sesungguhnya Senjata Api (Senpi) peninggalan Belanda dan atau Senjata Api peninggalan itu diakui dan dipakai sebagai alat pembayaran Mas Kawin di dalam adat istiadat suku besar Arfak, selain Babi, Uang dan Kain Timor serta ada juga Senpi.

” Jadi amatlah bijaksana dan sejuk apabila Kapolda Papua Barat maupun Pangdam XVIII Kasuari Papua Barat mengerti mekanisme hukum adat masyarakat adat Papua. Sehingga tidak menimbulkan Polemik dan dampak buruk ke depan dalam keharmonisan diantara Masyarakat Adat Papua dan Pihak Aparat keamanan di wilayah ini, “terang Ketua DAP Wilayah III Doberay Papua Barat, Mananwir Paul Finsen Mayor,S.IP kepada Honaipapua.com melalui telepon selulernya, Jumat (18/11).

Dikatakan Paul Finsen Mayor bahwa kalau bicara Otsus, Aceh itu bicara Syari’at Islam atau Hukum Islam dan kalau Bicara Otsus Papua itukan Syariat Adat atau Hukum Adat artinya bahwa Metode atau tatacara Pembayaran Mas Kawin di Setiap Suku-suku di Tanah Papua dilindungi oleh Undang-undang Otonomi Khusus Papua.

“Jadi atasnama Masyarakat Adat Papua, saya minta untuk jangan pidana masyarakat adat Papua hanya karena Kepemilikan Senpi untuk Pembayaran Mas Kawin, “pintanya.

Kata Paul, saat ini contohnya yang sedang terjadi di Kabupaten Teluk Bintuni itu sebenarnya harus dibebaskan, karena itu bicara hukum Adat, kecuali yang bersangkutan memakai Senpi untuk mengancam nyawa orang lain. Tapi itu hanya diperuntuhkan untuk bayar mas kawin, jadi, itu wajar saja, tidak perlu dipidana, sebaiknya Kapolda Papua Barat turun tangan untuk kasus-kasus seperti ini jangan terulang kembali.

Persidangan perkara nomor : 174/Pid.Sus/2022/PN.Mnk atas nama Terdakwa Alfons Orocomna dan nomor : 175/Pid.Sus/2022/PN Mnk atas nama Terdakwa Yosep Musyoi di Pengadilan Negeri Manokwari menunjuk pada fakta bahwa benar di dalam adat istiadat Suku besar Pedalaman Arfak di Kabupaten Teluk Bintuni seperti sub suku Moskona, senjata api masih dipakai sebagai salah satu alat pembayaran mas kawin.

” Saya mengutip isi berita yang telah dimuat disalah satu media online terkait kasus di teluk Bintuni saat ini, dengan digelar persidangan, coba kita simak seperti pernyataan kuasa hukum pemilik senjata api untuk pembayaran mas kawin dibawah ini, “kata Paul Finsen Mayor seraya menambahkan bahwa sengaja saya kutip berita tersebut untuk dimuat lagi di media agar pihak berwenang bisa mengetahui hal ini dan kedepan dapat mengikuti adat istiadat hukum adat yang berlaku.

Lanjut Paul Finsen Mayor bahwa Isi berita atau pernyataan kuasa hukum yang dimaksud adalah hal itu terungkap dalam sidang pemeriksaan diri kedua terdakwa melalui zoom/virtual. Baik Terdakwa Alfons Orocomna maupun Terdakwa Yosep Musyoi mengungkap bahwa mereka memperoleh senjata api jenis revolver rakitan dan 2 (dua) buah amunisi SS-1 Kalibaer Pin 5.56 mm tersebut dari pembayaran mas kawin serta untuk kepentingan pembayaran mas kawin semata.

“Sedikit pun tak terungkap bahwa setelah memiliki senjata api jenis revolver rakitan tersebut, kedua terdakwa ada menggunakannya untuk kepentingan lain, misalnya untuk berburu atau mengancam nyawa orang lain”,ujar Yan Christian Warinussy kepada PSN Jumat, (18/11/2022).

Terdakwa Yosep Musyoi mengatakan “saya memperoleh senjata api tersebut dari pembayaran mas kawin adik perempuan saya, dan setelah itu saya isi di tas gantung yang saya gantung di dalam kamar tidur di rumah saya, sampai Terdakwa Alfons Orocomna datang dan minta untuk pakai bayar mas kawin barulah saya serahkan kepadanya”,ungkapnya.

Sementara Terdakwa Alfons Orocomna mengatakan bahwa dirinya setelah menerima  senjata api jenis revolver rakitan tersebut dari Terdakwa Yosep Musyoi, lalu senjata tersebut dibawanya ke Bintuni dengan maksud hendak menunjukkan kepada mamanya untuk dilihat apakah senjata tersebut bisa digunakan sebagai alat pembayaran mas kawin adiknya atau tidak?

Sayangnya Alfons terjaring razia yang dilakukan anggota Polres Teluk Bintuni dan didapati bahwa memang Alfons Orocomna tidak memiliki ijin yang sah dari pihak berwenang untuk memiliki, membawa, menyimpan, menyerahkan dan atau menerima senjata api jenis revolver rakitan tersebut.

“Kami sebagai Tim Penasihat Hukum kedua Terdakwa akan mengajukan saksi yang meringankan bagi kedua Terdakwa. Penelitian Hukum Adat mengenai terdapat nya kebiasaan membayar mas kawin dengan alat-alat seperti kain timur, uang, babi dan senjata api diketahui masih di praktekkan dalam kehidupan adat istidat Suku Besar Pedalaman Arfak di Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Manokwari hingga saat ini”,tandas Yan Christian Warinussy. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *