DAP: Mundurnya 2 Dokter Spesialis, Bupati Fak-Fak Harus Bertanggungjawab

Adat
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Fakfak,Honaipapua.com, -Dua dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Fakfak akhirnya mengundurkan diri sebagai tenaga dokter, dengan pengunduran diri sebagai tenaga dokter maka tentunya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak akan mengalami kehilangan dua dokter specialias penyakit dalam.

Kepada media ini melalui Press Releassenya, Kamis, (5/8) Ketua DAP WILAYAH III DOBERAY, Mananwir Paul Finsen Mayor,S.IP mengutarakan, kedua tenaga dokter spesialias penyakit dalam yang telah mengundurkan diri dari RSUD Fakfak yakni dr. Djahalia Rumagesan, Sp.PD dan dr. Subhan Rumoning, Sp.PD. Kedua dokter spesialis penyakit dalam tersebut mengundurkan diri terhitung 4 Agustus 2021.

Pengunduran diri kedua tenaga dokter spesialis penyakit dalam itu tertuang dalam surat kedua dokter tersebut yang mana surat itu ditujukan langsung kepada Direktur RSUD Fakfak, dr. Kariani Kastela, M.Kes, Sp.Rad dengan tembusan kepada Bupati Fakfak dan Ketua DPRD Fakfak.

Didalam surat pengunduran diri sebagai dokter spesialis penyakit dalam, dr. Djahalia Rumagesan, Sp.PD, menyebutkan alasannya mengundurkan diri dari RSUD Fakfak karena adanya penghinaan terhadap dirinya, yang menyebabkan dia (dr. Djahalia Rumagesan) tidak dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai dokter spesialis penyakit dalam di lingkup RSUD Fakfak.

Menurutnya, pengunduran diri dari RSUD Fakfak, karena dua tenaga dokter spesialis penyakit dalam tidak lagi merasa aman dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, hal ini berawal dari salah satu persoalan yang membuat salah satu dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Fakfak dilaporkan ke pihak Kepolisian dari salah satu keluarga pasien.

“Masalah ini sudah kami sampaikan juga sebelumnya ke Bupati namun sampai saat ini tidak ada perhatian untuk menyelesaikan persoalan tersebut, kami (dokter spesialis penyakit dalam) tidak merasa aman dalam melaksanakan tugas di RSUD Fakfak kejadian tersebut makanya kami mengajukan pengunduran diri”, tuturnya.

” Persoalan ini juga sudah diketahui Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan langkah yang diambil ini tentunya juga sudah diketahui PARDI Pusat, “beber Paul Finsen Mayor.

Kata Paul, memang sangat disayangkan bila kedua dokter spesialis penyakit dalam ini mengudurkan diri dari RSUD Fakfak di tengah masa pandemik Covid -19 yang masih mengguncang Fakfak karena yang pasti bila kehilangan kedua dokter spesialis tersebut maka pasien Covid -19 akan tidak tertangani dokter penyakit dalam.

” Atasnama Masyarakat Adat Papua, Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay Papua Barat Mendesak Saudara Bupati Kabupaten Fak-Fak untuk bertanggungjawab terhadap persoalan ini, “terangnya.

Bupati Kabupaten Fak-Fak harus segera selesaikan Masalah ini agar kedua dokter spesialis ini bisa kembali kerja layani Masyarakat Adat Papua di Kabupaten Fak-Fak.

Bupati Kabupaten Fak-Fak bertanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sesuai dengan sumpah Jabatannya sebagai Bupati Kabupaten Fak-Fak.

Dewan Adat Mbaham Matta Fak-Fak segera menghubungi Bupati Kabupaten Fak-Fak dan segera mediasi agar ada titik temu penyelesaian masalah ini.

Paul menambahkan, Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay Papua Barat sebagai Rumah Besar Masyarakat Adat Papua akan memantau Perkembangan kasus ini. Nyawa Manusia Papua itu mahal harganya, Bupati Kabupaten Fak-Fak segera mengambil langkah selesaikan Persoalan ini. (***)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *