Dukung Penurunan Emisi GRK Melalui Blue Carbon, Kemenkomaritim Gelar Workshop

Teras Honai
Bagikan berita ini
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

KAIMANA, Honaipapua.com,-Negara Indonesia menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebanyak 26 persen pada tahun 2020 mendatang. Hal ini merupakan bagian dari komitmen peningkatan kualitas pembangunan yang berkelanjutan dan sekaligus berkontribusi untuk mengatasi pemanasan global.

Salah satu cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ini adalah dengan mendorong program blue carbon. Blue carbon sendiri merupakan karbon yang diserap oleh ekosistem pantai dan laut dan mencakup lebih dari 55 % karbon hijau sedunia. Diantaranya, mangrove, rawa payau dan padang lamun (sea grass).

Kementerian Koordintor Maritim RI mempunyai alasan kuat mengapa workshop ini dilakukan di Kabupaten Kaimana. Salah satu alasan utamanya adalah Kabupaten Kaimana berdasarkan hasil survey dan penelitian yang dilakukan oleh CI beberapa waktu yang lalu, memiliki karbon biru mencapai 54 juta ton yang sudah tersedia. Oleh karena itu, Kemenkomaritim berupaya keras, agar 54 juta ton karbon biru di Kaimana ini jangan sampai hilang atau lenyap.

Hal ini diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenkomaritim, Agung Kuswandono pada saat membuka kegiatan workshop di, Grand Papua Hotel, Rabu (29/8) kemarin.

Menurutnya, hutan mangrove yang ada di Kaimana ini merupakan hutan asli yang sudah ada sejak dahulu kala, sehingga bisa menyediakan 54 juta ton karbon biru.

Kaimana ini berdasarkan hasil survey dari mitra kerja kami yaitu Conservation International, bahwa Kaimana memikiki 70 ribu hektar lahan mangrove, dan sebagian besar mangrove ini sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sehingga Kaimana ini dapat dikategorikan sebagai lumbung karbon biru untuk Indonesia, ungkapnya.

Kuswandono juga mengatakan bahwa; bukti ilmiah hingga kini terus bertambah, menguak bahwa ada eskosistem-ekosistem laut tertentu yang berperan sebagai rosot karbon (carbon sinks). Dengan fungsi ini berarti ekosistem berkempampuan menyerap dan memindahkan jumlah besar karbon dari atmosfer setiap harinya, dan menyimpan atau mengendapkan dalam badan tumbuhan atau sedimen tempat tumbuh untujk waktu yang lama, ujarnya.

Walaupun demikian, menurutnya, ekosistem ini sudah mulai terancam kerusakan dan keberadaannya. Bagian dari ekosistem dengan laju penghabisan tercepat saat ini, dikesampingkan oleh aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Blue carbon atau karbon biru ini dapat beperan mengurangi emisi karbon sebesar seratus tiga puluh sembilan juta ton karbon per tahun. Angka ini dapat terus bertambah apabila lahan-lahan yang kurang atau tidak efektif penggunannya ditanami mangrove. Langkah-langkah untuk menyelamatkan dampak dari pemanasan global ini harus terus dilakukan dari waktu ke waktu, ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kaimana, Drs. Matias Mairuma dalam kegiatan ini mengungkapkan bahwa pelestarian bakau yang ada di Kabupaten Kaimana, sudah dilakukan sejak nenek moyang masyarakat asli Kaimana hidup.

Menurutnya, praktek untuk menjaga ekosistem laut dan pesisir yang ada di Kaimana sudah terjadi ratusan tahun yang lalu, dengan mengedepankan kearifan lokal masyarakat Kaimana.
Kondisi kita saat ini adalah, ada beberapa titik hutan mangrove kita yang sudah mulai rusak.

Padahal hutan mangrove ini sudah dijaga oleh orang tua-tua kita sejak dulu. Hutan di Kaimana ini sudah mulai rusak, ketika ada pendekatan pembangunan yang hanya memikirkan keuntungan, tanpa melihat kondisi daerah maupun kearifan lokal masyarakat kita di Kaimana ini. Ini yang perlu kita sadari bersama. Walaupun selama ini tidak ada regulasi khusus yang mengatur tentang hutan mangrove dan sebagainya, tetapi orang tua-tua kita sudah bisa lakukan itu. Dan mereka komitmen dengan langkah yang mereka ambil tersebut, ungkapnya.

Bupati Mairuma juga meminta kepada seluruh pihak yang terlibat dalam workshop ini, agar bisa tercipta satu kesepamahan dan konsep bersama untuk menjaga ekosistem laut dan pesisir yang ada di Kabupaten Kaimana.
Dengan adanya diskusi dalam kegiatan ini, kami berharap supaya ada keseimbangan yang terjadi, antara karbon biru, kesejahteraan masyarakat dan juga keseimbangan lingkungan.

Mudah-mudahan dengan kegiatan ini kita bisa mendapatkan terobosan yang baik, untuk mengelolah alam Kaimana ini dengan lebih optimal, tanpa harus mengorbankan yang lain. Harus juga memanfaatkan pengembangan lingkungan konservasi yang berkelanjutan, pungkasnya. (edo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *