KASUS SAUVENIR KULIT BUAYA PINTU MASUK PEMUDA MARIND SUARAKAN GERAKAN AKBAR REFORMASI HUKUM DI TANAH PAPUA

Opini
Bagikan berita ini
  • 68
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    68
    Shares

MERAUKE, HonaiPapua.com – 9 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pribumi Internasional. Khusus di Tanah Papua dilihat sebagai pulau besar yang kosong tanpa penghuni.

Kondisi inilah yang kemudian oleh masyarakat adat dari 7 wilayah adat di Tanah Papua serentak turun jalan untuk menyatakan Pulau Besar ini ada penghuninya.

Saat ditemui, Rabu (08/08/18) dihalaman kantor DPRD Kabupaten Merauke, Ketua Pengurus Pusat (DPP) Pemuda Marind ,Fransiskus Ciwe,SE, mengatakan, apa yang disuarakan dari masyarakat adat di Tanah Papua itu, bahasa paling sederhana. Mereka masih memilih kalimat bijak untuk menyuarakan haknya di hari pribumi Internasional.

“Yang sebenarnya itu, masyarakat adat dari 7 wilayah adat sebagai pribumi di Tanah Papua ingin bilang luka di hati kita sudah terlalu sakit, karena tidak pernah diobati justru terus digores.

Tanah kita diambil di depan mata, hutan kita diambil, hasil kekayaan alam kita diambil tanpa bicara pada kita.

” Kenyataan yang ada, bicara saja sudah syukur. Ini permisi saja tidak ada sama sekali dan seenaknya saja diambil. Apalagi yang masih tersisa buat kita, saya berani bilang sudah tidak ada lagi yang tersisa,” kata Ciwe.

Bahkan milik kita yang paling pribadi yaitu pelita harapan pun turut pula ingin dipadamkan.

“Pelita harapan bagi kita orang Papua adalah pemimpin kita, yang dekat bersama kita, yang tahu tangisan kita. itupun ingin dirampas tanpa melihat keberhasilan yang telah dilakukan selama ini,” kata Sisko Ciwe.

Fenomena ini begitu terlihat nyata ,kata Ciwe, pemimpin kami yang selama kepemimpinannya mampu membawa perubahan justru yang paling pertama akan dihabisi. Namun kalau pemimpin yang arogan, angkuh dan bekerja dengan cara-cara mafia akan dilindungi, padahal mungkin saja dia bukan Orang Asli Papua.

“Ini maksudnya apa. Ini bukan hanya terjadi di selatan Papua, fenomena ini hampir diseluruh tanah Papua terjadi, tapi kurang terdengar,”jelasnya.

Silahkan buka semua data di Tanah Papua, lanjut Ciwe, fenomena ini akan terlihat jelas. Bupati yang memimpin daerah selama dua periode yang penuh krismastik dihancurkan setelah turun dari jabatannya dengan persoalan hukum.

Tujuannya apa, sambung Ciwe, untuk mengiring opini bahwa anak-anak adat tidak mampu memimpin daerahnya.
Sekarang ini, kami Orang Asli Papua dari wilayah adat Doberai hingga Anim Ha tidak akan diam lagi. Api harapan kita orang Papua harus tetap menyala. Sebab dari situlah jalan bagi kita untuk bisa sedikit mengobati luka yang sudah kronis.

” Kasus Sauvenir Kulit buaya akan kami jadikan pintu masuk untuk menyuarakan Reformasi Hukum di Tanah Papua. Untuk menjadi Bupati atau Gubernur selama dua periode di seluruh tanah Papua itu tidak gampang, lantas seenaknya ingin dihancurkan tanpa melihat penghargaan dan keberhasilan selama memimpin.
Silahkan rekan – rekan wartawan cek ke masyarakat dari kondo sampai digoel bahkan sampai ke tiga kabupaten di selatan Papua, sosok Jhon Gluba Gebze selama memimpin kabupaten Merauke dua periode apa saja yang sudah dilakukannya. Dan apakah masyarakat merasakan sentuhan pembangunannya dalam slogan Izakod Bekai Izakod Kai.

Pemuda Marind akan duduk bersama seluruh masyarakat adat dari 7 wilayah adat di Tanah Papua untuk bersama kita suarakan ini.

Pemimpin yang berprestasi dan menerima banyak penghargaan dari negara wajib untuk bersama semua elemen masyarakat lindungi. Kalau pemimpin yang hanya memperkaya dirinya sendiri wajib pula diadili. “Bapak John Gluba Gebze adalah mantan bupati dua periode yang paling termiskin.

Sekarang saja, beliau malah menjadi petani untuk mendukung program nasional di atas lahannya sendiri. Jadi kami mau tegaskan jangan lagi pemimpin Papua yang penuh karismatik dibungkam. Saya juga mau bilang pemuda – pemudi Marind yang punya mimpi ingin jadi pemimpin harus sadar ini.

Kita akan mulai gerakan besar dari kampung untuk menghancurkan upaya kriminalisasi terhadap pemimpin-pemimpin diatas Tanah Papua yang seluruh pikiran dan jiwa raganya tercurah untuk masyarakatnya,” tandasnya.

Lantas bila ditanya kenapa baru sekarang, Ciwe bilang inilah waktu yang tepat untuk itu. Waktu lalu mungkin bukan momentumnya. (Ebm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *