Kasus Pencurian Alat Berat Kapolres Bintuni Dituding Tahan Pelaku Tidak Ada Bukti Kuat

Hukrim
Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bintuni,Honaipapua.com,- Pihak kepolisian Resor Teluk Bintuni dituding menahan pelaku pencurian alat berat, tidak mendasar atau tidak mempunyai alat bukti yang kuat.

Resman Siregar dituding sebagai pelaku kasus pencurian yang ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian Resor Teluk Bintuni kepada Honaipapua.com menceriterakan kronologis kejadiannya menyampaikan, Saya bekerja mengurus dan memindahkan alat-alat berat hasil lelang negara 2004 no 67/2004, di kabupaten Teluk Bintuni, pada tanggal 24 november 2018 sampai 23 Januari 2019, saya di tahan di Polres Teluk Bintuni dan kalau boleh dikatakan mendapatkan perlakuan tidak manusiawi, atas tuduhan pencurian yang dilaporkan oleh salah satu pengusaha kayu Asing bernama Wong Se Tung, melalui anak buahnya, yang saya tau Wong Se Tung sebagai DPO kasus Ilegal loging.

” Saya tidak pernah merasa melakukan pencurian, atas mobilisasi alat berat ini, karena sudah habis penahananya saya dilepas 23 januari 2019, karena berkas tidak bisa di P21 atau dilanjutkan menurut Kejaksaan Bintuni, karena tidak ada tindakan pidana yang saya lakukan, pasalnya, saya sudah memegang dokumen risalah Lelang resmi, “ungkap Resman kepada Honaipupua.com, Jumat (18/7) di salah satu hotel di Manokwari.

Lanjut Resman, surat keterangan dari Kajari Manokwari surat jalan dari Polda, melalui Wakapolda, karena Kapolres Teluk Bintuni AKBP.Andriano Ananta.SI.k, tidak mau memberikan surat ijin jalan yang pertama pada bulan September 2018, dengan alasan menyuruh kami pemilik barang lelang menggugat KPKLN Sorong dan Kejaksaan Manokwari, selaku pemohon lelang, padahal kami sudah datangkan kapal untuk di bawa ke Jayapura, akhirnya saya menemui Kajari Bintuni, meminta pendapat dan saya memohon koordinasi dengan Kapolres, hasilnya pada tanggal 29 sept 2018 kami bersama-sama melakukan pengecekan bersama pihak Polisi, Jaksa dan saya dengan anak buah saya, setelah selesai pengecekan saya meminta kepada pihak Jaksa dan Polisi untuk anak buah saya tinggal memperbaiki alat-alat berat tersebut, karena sudah bertahun- tahun tidak hidup.

Namun pada tanggal 1 oktober pukul.02.00.Wit dinihari anak buah saya dijemput dan merampas kunci alat kerja 2 box dari lokasi. Saya mendapatkan laporan dari anak buah saya jam 7 pagi, ketika saya berada di hotel, saya ke Polres menayakan ke Kasat Reskrim menyampaikan saya, jangan berlaku Preman, sementara saya menanyakan kenapa anak buah saya di tangkap, akhirnya saya menjumpai Kapolres menyampaikan kenapa orang saya dijemput dari lokasi?beliau panggil Kasat Intel, Waka Polres, anggota Polisi 2 orang yang ikut, kasat Reskrim dan saya menghubungi Jaksa yang ikut mengecek ke lapangan setelah kami berkumpul di ruangan Kapolres. ” Beliau katakan ada laporan pencurian, saya pun bingung apa yang kami curi ? dan Kapolres menyampaikan ke anak buahnya bisa ngak kalian Profesional ? Saya meminta anak buah saya pulang namun kunci, 2 box dirampas Polisi belum dikembalikan .saya pun sudah melihat sudah terjadi kesewenangan dan kongkalingkong ini, karena saya menayakan ke penyidik apa bukti bahwa mereka melapor katannya pelapor masih cari, akhirnya saya menemui Kajari menyampaikan masalah ini dan saya menyampaikan apakah harus surat dari Kajati baru Kapolres mau memberikan surat jalan? Kajari menyampaikan coba ke Polda melaporkan, tanggal 2 oktober 2018, saya menghubungi Dirkrimum Polda Papua Barat meminta waktu ketemu beliau yang saat itu berada di Sorong, saya berangkat ke Sorong, tanggal 3 oktober 2018, pada 4 oktober beliau mendadak ke Bali dan saya pun berusaha ketemu di Bali, dan saya menjelaskan permasalahan dan beliau mengatakan, setelah dia ke kantor hari senin akan menyampaikan ke Kapolres.

” Saya menunggu sampai 1 minggu belum ada hasil, Kapolres memberikan surat jalan, akhirnya saya suruh kapal kembali, pada 23 Oktober, saya ke Polda ketemu dgn Dirkrimum dan memanggil Kapolres yang kebetulan berada di Polda, kami bertiga bertemu beliau menyampaikan agar saya di bantu untuk surat ijin jalan, karena dokumenya sudah lengkap dan sudah ada institusi yg bertangungjawab, Kapolres katakan siap dan ok, dan saya tanyakan Kapolres kapan ke Bintuni pak? Beliau katakan hari Rabu, sayapun berusaha ke Bintuni hari Rabu, untuk ketemu dan saya mulai memesan kapal, hari Kamis, kami ketemu dan saya jumpai di Polres Bintuni menyampaikan mau meminta surat jalan seperti yg sudah ok di Polda, namun ditolak kembali, bagaimana kemarin sudah ok, sekarang tidak bisa lagi, suruh saya gugat lagi ke KPKLN dan Kejaksaan, akhirnya saya pulang dari Polres dan ketemu Kajari dan kapal saya batalkan, “bebernya.

Resman menambahkan, pada bulan November 2018, saya ke Polda lagi dan bertemu Wakapolda dan menjelaskan permasalahanya, beliau memerintahkan anak buahnya buatkan surat ijin jalan, dan saya sekaligus meminta anggota dari polda untuk mendampingi saya dalam pemuatan. Setelah saya mempersiapkan semua dengan kapal tanggal 21 november 2018, saya ke Bintuni dan anggota dari polda datang tanggal 22 november pada tanggal 24 november 2018, saya di tahan sebagai tersangka. Demikian kronologis singkat saya selaku ketua kerukuran Siregar Kota dan Kabupaten Sorong sekaligus menghimbau, kepada anggota kerukunan untuk jangan coba sekali-kali melakukan perbuatan yang melawan hukum.

Sementara Kapolres Bintuni AKBP. Andriano Ananta.SI.K, ketika dikonfirmasi media ini via pesan whatsapp, hanya membalas pesan whatsapp “Sumber berita dari mana”.

Kapolda Papua Barat , Brigjend Pol Drs.Herry Rudolf Nanak. M.Si, saat dikonfirmasi juga melalui pesan whatsapp belum membalas pesan yang dikirim media ini. (pic )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *